Jonan: Polusi Akibat BBM Tak Ramah Lingkungan Turunkan Harapan Hidup
Pertamina saat ini menjadi salah satu pengembang BBM yang lebih ramah lingkungan. Menteri Jonan berharap selain dapat menghasilkan BBM yang ramah lingkungan juga 100 persen menggunakan bahan baku energi terbarukan.
Pemerintah menyatakan perlu terus adanya sebuah inovasi dalam memproduksi bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan. Sebab, polusi akibat BBM, turunkan harapan hidup masyarakat Indonesia.
"Kemajuan atau pertumbuhan ekonomi bangsa ini jika sebesar lima persen saja per tahun, kalau kita tidak memulai membuat bahan bakar yang ramah lingkungan, maka 25 tahun lagi polusinya akan sangat buruk," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, seperti dikutip dari Antara di Yogyakarta, Jumat (18/1).
"Kalau makin lama polusinya makin buruk maka tingkat kesehatan masyarakatnya juga makin terganggu dan akibatnya harapan hidup makin menurun," tambahnya.
Pertamina saat ini menjadi salah satu pengembang BBM yang lebih ramah lingkungan. Menteri Jonan berharap selain dapat menghasilkan BBM yang ramah lingkungan juga 100 persen menggunakan bahan baku energi terbarukan.
"Masyarakat berharap minyak diesel yang dihasilkan Pertamina di kemudian hari, itu akan berasal dari energi terbarukan sehingga tingkat polusi yang dihasilkan itu akan rendah, akan makin sangat berkurang karena tidak bisa jika tidak ada sama sekali polusinya," harap Menteri Jonan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina saat ini sedang mengembangkan BBM berbasis sawit yang ramah lingkungan atau biodiesel. "Co-processing dan hydrorefining tersebut akan menghasilkan energi yang lebih bersih jika dibandingkan dengan FAME yang hari ini kita hasilkan. Opsi-opsi pengembangan energi bersih melalui proses hydrorefining tersebut merupakan sepenuhnya hasil karya anak bangsa hasil kerjasama dengan LAPI-ITB dengan nama katalisnya, katalis Merah-Putih," ujar Nicke.
Nicke menambahkan, pengembangan bahan bakar ramah lingkungan ini secara bertahap sedang dikerjakan di beberapa kilang Pertamina dan diharapkan sebelum 2023 sudah dapat diimplementasikan di empat kilang milik Pertamina yang memiliki Residual Fuel Catalytic Cracking (RFCC) yang pada saatnya nanti akan menghasilkan green diesel, green avtur dan green fuel.
Pengembangan BBM berbasis sawit selain lebih ramah lingkungan dan sedikit menghasilkan polusi tentunya juga akan dapat meningkatkan nilai tambah dari sawit itu sendiri dan mengurangi impor minyak mentah.
Baca juga:
Menko Darmin: Program B20 Mampu Tekan Impor Solar 6 Juta Kiloliter di 2019
Sejak September 2018, B20 Hemat Rp 13,25 T Devisa dari Impor Solar
Pemerintah Resmikan Pembangunan Pabrik Baterai Mobil Listrik di Morowali
Melihat Penelitian Energi Terbarukan dari Mikro Organisme Bawah Laut
Akhir Januari, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Bali Target Mulai Dibangun
ESDM Catat Program B20 Hemat Devisa Rp 28,4 Triliun di 2018
Kementerian ESDM Kaji Ubah Program B30 Jadi Green Fuel