LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Inflasi September 2025 Tercatat 0,21%, Ini Faktor Penyebabnya

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi pada bulan September 2025 tercatat sebesar 0,21 persen.

Rabu, 01 Okt 2025 14:55:00
inflasi
Nadi Sugiharto telah menjalankan usaha buah 'Nanas Nadi' sejak 1993 di Pasar Tradisional SMEP, Bandar Lampung. (@ 2025 merdeka.com)
Advertisement

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi pada bulan September 2025 mencapai 0,21 persen. "Inflasi bulanan tercatat sebesar 0,21 persen, yang ditunjukkan oleh peningkatan indeks harga konsumen (IHK) dari 108,51 pada bulan Agustus 2025 menjadi 108,74 pada bulan September 2025," ungkap Deputi Bidang Statistik Produksi M. Habibullah dalam konferensi pers BPS pada Rabu (1/10/2025).

Inflasi tahunan atau year on year menunjukkan angka 2,65 persen, sedangkan inflasi untuk tahun kalender tercatat sebesar 1,82 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi adalah makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami inflasi sebesar 0,38 persen dengan andil inflasi mencapai 0,11 persen. Komoditas utama dalam kelompok ini adalah cabai merah dan daging ayam ras, yang masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,13 persen.

Selain itu, emas dan perhiasan juga berkontribusi terhadap inflasi dengan andil sebesar 0,08 persen. Komoditas lain yang turut berkontribusi termasuk sigaret kretek mesin, biaya kuliah di akademi perguruan tinggi, cabai hijau, dan sigaret kretek tangan, yang masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Advertisement

Di sisi lain, BPS juga mencatat adanya komoditas yang memberikan andil deflasi pada bulan September 2025. Komoditas bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,12 persen, sedangkan tomat memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen. Beberapa komoditas lain seperti bawang putih, cabai rawit, beras, ketimun, dan biaya sekolah menengah atas juga mencatat andil deflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.

BPS merilis dari kelompok pengeluaran, bagan makanan mengalami deflasi sebesar 0,07% dengan andil dalam inflasi September 2016 sebesar -0,01%, Jakarta, Senin (3/10). Harga beras dan telur aya © 2025 Liputan6.com

Habibullah mengungkapkan bahwa semua komponen mengalami inflasi pada bulan September 2025. Inflasi tersebut terutama didorong oleh komponen inti yang mencatat inflasi sebesar 0,21 persen.

Advertisement

"Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,18 persen dengan andil inflasi sebesar 0,11 persen. Komoditas yang paling berkontribusi terhadap inflasi komponen inti adalah emas perhiasan dan biaya pendidikan di akademi atau perguruan tinggi," jelasnya.

Selain itu, komponen harga yang bergejolak juga mengalami inflasi sebesar 0,52 persen dengan andil inflasi sebesar 0,09 persen. Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi pada komponen bergejolak antara lain cabai merah, daging ayam ras, dan cabai hijau. Selanjutnya, komponen harga yang diatur oleh pemerintah mencatat inflasi sebesar 0,06 persen dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Impor Indonesia mengalami penurunan sebesar 6,56% pada Agustus 2025, dan berikut adalah penyebabnya

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (14/4/2022). Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan mencatat surplus s © 2025 Liputan6.com

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai impor Indonesia pada Agustus 2025 mencapai USD 19,47 miliar, mengalami penurunan sebesar 6,56 persen dibandingkan dengan Agustus 2024. "Nilai impor migas sebesar USD 2,73 miliar atau naik 3,17 persen secara tahunan. Sementara itu, nilai impor nonmigas USD 16,74 miliar mengalami penurunan 7,98 persen," ungkap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah dalam konferensi pers BPS pada Rabu (1/10/2025).

Adapun jika dilihat berdasarkan penggunaan, pada Agustus 2025 terjadi penurunan impor untuk kategori barang konsumsi dan bahan baku penolong jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Sementara itu, barang modal menunjukkan adanya peningkatan," tambahnya. Nilai impor barang konsumsi mengalami penurunan tahunan sebesar 5,24 persen, sedangkan bahan baku penolong yang menjadi pendorong utama penurunan impor tercatat turun sebesar 9,06 persen dengan kontribusi penurunan sebesar 6,52 persen. Di sisi lain, nilai impor barang modal mengalami kenaikan sebesar 2,45 persen.

Terdapat tiga komoditas utama dalam kategori impor nonmigas, yaitu mesin atau peralatan mekanis, mesin perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya. "Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, nilai impor ketiga komoditas tersebut memberikan kontribusi sekitar 37,48 persen terhadap total impor nonmigas," jelasnya.

Nilai ekspor pada bulan Agustus 2025

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (14/4/2022). Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan mencatat surplus s © 2025 Liputan6.com

Pada Agustus 2025, nilai ekspor Indonesia tercatat mencapai USD 24,96 miliar, meningkat sebesar 5,78 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Nilai ekspor migas tercatat USD 1,07 miliar atau turun 10,88 persen. Nilai ekspor nonmigas tercatat naik sebesar 6,68 persen dengan nilai USD 23,89 miliar," ujarnya. Kenaikan nilai ekspor pada bulan Agustus 2025, jika dilihat dari tahun ke tahun, terutama disebabkan oleh peningkatan pada ekspor nonmigas.

Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan signifikan adalah lemak dan minyak hewan nabati, yang meningkat sebesar 51,07 persen dengan kontribusi sebesar 5,18 persen.

Selain itu, logam mulia dan perhiasan juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, naik sebesar 34,76 persen dengan kontribusi 1,02 persen.

Advertisement

Tidak kalah penting, nikel dan produk turunannya mengalami kenaikan sebesar 35,34 persen, dengan andil 0,98 persen. Peningkatan ini menunjukkan potensi besar dari sektor nonmigas dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan demikian, meskipun ekspor migas mengalami penurunan, sektor nonmigas tetap menjadi pendorong utama dalam meningkatkan nilai total ekspor negara.

Berita Terbaru
  • Resep Dendeng Daun Pepaya Pedas Gurih, Renyah dan Anti Pahit
  • Oppo Reno16 Meluncur di Indonesia, Usung Kamera Selfie 50MP dan Fitur AI Kolase Mix
  • Di Balik Tangis Lionel Messi, Keluarga Ungkap Kondisi Sang Ayah
  • Kabar Baik untuk Fans Spanyol, Lamine Yamal Bisa Jadi Starter Lawan Arab Saudi
  • AS-Iran Resmi Berdamai, Trump dan Pezeshkian Teken Kesepakatan di Tempat Berbeda
  • berita update
  • bps
  • inflasi
  • inflasi tahunan
  • konten ai
Artikel ini ditulis oleh
Editor Pandasurya Wijaya
T
Reporter Tira Santia, Septian Deny
Disclaimer

Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.