LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Inflasi & Suku Bunga Jadi Penyebab Perlambatan Ekonomi Global di 2023

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan beberapa hal yang menyebabkan perlambatan ekonomi global. Termasuk, adanya penyesuaian suku bunga, inflasi, hingga kenaikan harga komoditas global.

2023-01-03 15:14:51
Inflasi
Advertisement

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan beberapa hal yang menyebabkan perlambatan ekonomi global. Termasuk, adanya penyesuaian suku bunga, inflasi, hingga kenaikan harga komoditas global.

"Nah kenaikan harga komoditas ini mendorong inflasi yang sangat tinggi yang kemudian diikuti dengan kenaikan suku bunga di berbagai negara yang tidak memberikan price control," ujar dia dalam Konferensi Pers APBN Kita, Selasa (3/1).

Sebut saja, Amerika Serikat yang mencatatkan inflasi sebesar 7,1 persen, Eropa alami inflasi sebesar 2,5 persen, kemudian, India pun mencatatkan inflasi 5,9 persen. Tingginya inflasi ini direspons dengan penguatan suku bunga, dan berbagai pengetatan lainnya.

Advertisement

"Inilah yang menyebabkan kenapa pertumbuhan ekonomi dunia melambat secara signifikan. Kenaikan dan gejolak yang terjadi dan tentu menggerus dari sisi permintaan dan kemudian juga menyebabkan proyeksi pertumbuhan global direvisi ke bawah," paparnya.

Di 2022, terjadi revisi pertumbuhan global, dari 4,4 persen, turun menjadi 3,6 persen, dan turun lagi menjadi 3,2 persen untuk ekonomi global. Sementara itu, di 2023 IMF juga merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi global hanya berada di 2,7 persen.

"Ini juga revisi yang cukup tajam dari tadinya prediksi bahwa tahun 2023 adalah perekonomian akan tumbuh 3,8 persen secara dunia kemudian direvisi ke bawah menjadi 3,6 persen, (turun lagi ke) 2,9 persen dan ke 2,7 persen," bebernya.

Advertisement

"Ke depan tantangan ekonomi memang akan diwarnai dengan suasana yang mirip 2022 dan pelemahan ekonomi yang mungkin dalam hal ini mulai terjadi secara nyata di berbagai belahan dunia," imbuhnya.

Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tumbuh sekitar 1,6 di 2022 dan diprediksi tumbuh 1 persen. Bahkan ada prediksi ekonomi AS akan melemah di awal tahun ini. "Masih ada prediksi bahwa terjadi kemungkinan negatif growth pada 1 atau 2 kuartal ada tahun 2023 ini," kata dia.

"Eropa mengalami penurunan yang sangat dramatis yaitu tahun 2022 dari 5,2 persen di tahun lalu ke 3,1 dan tahun depan diperkirakan hanya tumbuh tipis atau bahkan masuk resesi," imbuhnya.

Sedangkan, China yang mulai membuka pergerakan masyarakat diprediksi akan tumbuh tipis dari tahun lalu. Pertumbuhannya hanya 3,2 persen, dan tahun depan mungkin akan lebih baik sedikit pada level 4,4 persen.

"India yang relatif dalam posisi lebih baik pun tahun 2022 merupakan koreksi dari tahun sebelumnya, hanya tumbuh 6,8 persen dibandingkan pemulihan tahun sebelumnya yaitu 8,7 persen. Tahun depan India diperkirakan mengalami sedikit pelemahan, (tumbuh) di 6,1 persen," beber Menkeu.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Jawa Tengah Realisasikan Pendapatan Daerah 99,33%, 10 Besar Tertinggi di Indonesia
Daftar Target Ganjar Bangun Jateng di 2023: Penanggulangan Bencana hingga Ekonomi
Kinerja Ekspor Positif, Mendag Zulhas Optimis Ekonomi RI di 2023 Tetap Moncer
PPKM Dicabut, Jokowi: Semoga Bisa Dorong Ekonomi Tumbuh Lebih Baik
Jokowi: Tahun 2023 Ujian Bagi Ekonomi Kita
Tantangan RI di 2023, Pertumbuhan Ekonomi Masih Terganjal Kinerja Ekspor

(mdk/azz)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.