Indonesia Akan Impor 100 Ribu Tabung CNG dari China
Indonesia berencana untuk mengimpor 100 ribu unit tabung CNG 3 kg dari China guna melakukan uji coba penggunaan di segmen rumah tangga.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mempersiapkan pelaksanaan pengujian CNG 3 kg untuk pengguna rumah tangga. Untuk menjalankan misi ini, diperkirakan akan ada kebutuhan minimal sebanyak 100 ribu unit tabung CNG 3 kg yang akan diimpor dari China. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa saat ini Kementerian ESDM tengah merancang rencana untuk melaksanakan proses pengujian penggunaan CNG 3 kg di beberapa kota besar.
“Jadi, kita sekarang fokus kepada proses pengujian, di kota-kota besar di Pulau Jawa, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, seperti itu,” ungkap Laode di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, dikutip pada Kamis (21/5/2026). Proses pengujian ini memerlukan alokasi sekitar 100 ribu tabung CNG dari China. Impor barang-barang tersebut akan dilakukan oleh badan usaha, meskipun Laode belum dapat memberikan rincian lebih lanjut mengenai hal itu.
“Untuk bisa kita dapatkan tabung yang riil, minimum kita harus pesan 100 ribu. Tapi ini yang lakukan calon badan usahanya ya, bukan kita. Mereka yang sedang berproses sekarang,” jelasnya. Dari segi tata kelola penggunaan, alokasi CNG nantinya akan mengikuti pola LPG 3 kg. Namun, masyarakat tidak perlu membeli tabungnya, karena tabung tersebut akan dipinjamkan oleh distributor.
“Skema yang sedang dibuat sekarang, masyarakat tidak diharuskan beli tabung. Jadi gini ya skemanya nanti, itu masyarakat tidak beli tabung. Tabung milik supplier gasnya,” terang Laode. Dengan demikian, diharapkan pengujian ini dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam penggunaan energi yang lebih efisien.
Target Bertahap untuk Gantikan LPG 3 kg
Sebelumnya, Kementerian ESDM memperkirakan bahwa penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif untuk tabung gas LPG 3 kg dapat dilakukan secara bertahap mulai tahun ini. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa pemerintah saat ini sedang menganalisis berbagai aspek terkait penggunaan CNG 3 kg, terutama dalam hal keselamatan.
"Aspek keselamatannya ini bukan hanya dari Kementerian ESDM, tapi juga ada dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Tenaga Kerja, sama BSN (Badan Standardisasi Nasional) yang menerbitkan standarnya," jelasnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dia menegaskan bahwa saat ini semua aspek keselamatan sedang dikonsolidasikan agar dapat ditangani dengan baik.
"Ini juga sedang disiapkan agar kita bisa segera mengimplementasikannya," tambahnya.
Namun, Laode mengungkapkan bahwa penerapan CNG sebagai pengganti tabung gas bersubsidi secara masif memerlukan berbagai tahapan. Meskipun demikian, ia meyakinkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya gas yang cukup untuk mendukung rencana tersebut.
"Kan kita punya gas banyak, dan sekarang sudah ditemukan lagi gas-gas yang besar ya. Kayak kemarin yang ENI itu," ungkap dia.
Impor LPG Tidak akan Lepas dalam Waktu Dekat
Laode menyatakan bahwa Indonesia tidak akan menghentikan kontrak impor LPG dari berbagai negara dalam waktu dekat. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan LPG masih sangat penting bagi negara, sementara pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Meskipun demikian, pemerintah berencana untuk melaksanakan beberapa proyek percontohan (pilot project) program CNG sebagai alternatif pengganti LPG yang akan diimplementasikan pada tahun 2026.
"Tahun ini sudah akan ada beberapa pilot project. Jadi itu semua tahapan-tahapan itu membutuhkan waktu," ujar Laode. Dengan adanya proyek ini, diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan meningkatkan penggunaan sumber daya energi lokal di masa mendatang.