Imlek 2026, Merek Mewah Global Bersaing Gaet Konsumen di China
Merek-merek mewah internasional bersaing untuk meluncurkan koleksi Tahun Baru Imlek guna menarik perhatian konsumen dari China menjelang Tahun Kuda.
Beberapa merek mewah internasional, seperti Harry Winston dan Loewe, semakin aktif meluncurkan koleksi spesial untuk menyambut Tahun Baru Imlek guna menarik perhatian konsumen di China. Menjelang Tahun Kuda yang dimulai pada hari Selasa, Harry Winston, seperti yang dilaporkan oleh CNBC pada Selasa (17/2), memperkenalkan jam tangan edisi terbatas yang terbuat dari emas mawar dengan harga mencapai USD 81.500 atau sekitar Rp1,37 miliar (berdasarkan kurs Rp16.820 per dolar AS). Jam tangan ini dilengkapi dengan bezel berlian dan ornamen kuda berwarna merah yang menambah kesan mewah.
Di sisi lain, merek fesyen premium Chloé juga meluncurkan koleksi kapsul yang mencakup berbagai produk, mulai dari syal sutra seharga USD250 atau Rp4,2 juta hingga tas bahu yang terbuat dari kulit ular dengan harga mencapai USD5.300 atau Rp89,14 juta, yang menampilkan detail kepala dan ekor kuda.
Merek-merek lain seperti Gucci dan Loro Piana pun turut menghadirkan gantungan tas dengan motif kuda. Peluncuran koleksi Imlek ini dianggap sebagai tanda optimisme bagi industri barang mewah, yang berharap pasar China akan bangkit kembali setelah mengalami perlambatan selama beberapa tahun terakhir.
Pasar Barang Mewah di China Mulai Bangkit
Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen di China yang sebelumnya menjadi pendorong utama bagi industri barang mewah global, kini mulai mengurangi pengeluaran mereka akibat perlambatan ekonomi dan penurunan di sektor properti. Menurut estimasi dari Bain & Company, nilai pasar barang mewah di China diperkirakan mencapai sekitar 350 miliar yuan pada tahun 2024, yang setara dengan 50 miliar dolar AS.
Di tahun 2025, pasar barang mewah tersebut diprediksi akan mengalami penyusutan sekitar 3 hingga 5 persen, namun mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada paruh kedua tahun itu.
Analis senior dari Bernstein, Luca Solca, memperkirakan bahwa belanja barang mewah di China akan stabil dengan pertumbuhan satu digit menengah pada tahun 2026. "Orang China tidak lagi kagum pada apa pun yang datang dari Barat. Interpretasi Imlek yang asal-asalan tidak akan membawa hasil," ungkap Solca.
Ia juga mencatat bahwa sebelum terjadinya pandemi Covid-19, konsumen China menyumbang sekitar sepertiga dari total pasar barang mewah global. Namun kini, porsi tersebut telah turun menjadi sekitar 23 persen. Meskipun demikian, perayaan Tahun Baru Imlek tetap menjadi momentum yang penting bagi merek-merek Barat untuk menunjukkan penghormatan terhadap budaya China.
Pendekatan Baru untuk Menarik Konsumen Muda
Kepala praktik konsumen Boston Consulting Group (BCG) di China Raya, Veronique Yang, berpendapat bahwa penafsiran simbol Imlek yang terlalu literal dapat dianggap sebagai sikap malas atau kurang menghargai budaya.
"Anak muda China menghormati budaya lama, tetapi mereka ingin melihatnya ditafsirkan secara modern," ujarnya. "Penting membangun narasi yang menghubungkan warisan budaya dengan visi kontemporer," tambahnya.
Profesor strategi luxury di Pepperdine University, Daniel Langer, juga menyoroti bahwa konsumen China saat ini semakin selektif. "Mereka sudah pergi ke tempat terbaik, makan di restoran terbaik, dan belanja di toko terbaik. Ekspektasi mereka terhadap merek jauh lebih tinggi," katanya.
Dalam upaya menjangkau konsumen dengan cara yang lebih autentik, banyak merek yang mengandalkan pengalaman imersif. Valentino, misalnya, menggelar festival lentera di Shanghai, sedangkan Burberry meluncurkan kampanye Imlek dengan butik pop-up dan arena seluncur es.
"Banyak elemen budaya yang bisa diintegrasikan dalam sebuah cerita. Ini bukan hanya soal hewan zodiak," ujar Yang. Dengan pendekatan yang lebih kreatif dan mendalam, merek-merek mewah berharap dapat merebut kembali hati konsumen China di tengah persaingan yang semakin ketat.