LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

IMF Kembali Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia 2019 Menjadi 3 Persen

Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi 3 persen. Ini menjadi keempat kalinya IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2019, dari proyeksi semula yang disampaikan pada April sebesar 3,2 persen.

2019-10-16 10:49:25
IMF
Advertisement

Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi 3 persen. Ini menjadi keempat kalinya IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2019, dari proyeksi semula yang disampaikan pada April sebesar 3,2 persen.

Dari laporan IMF yang dirilis pada Selasa (15/10), IMF menyebut ekonomi global kini tengah berada dalam penurunan yang tersinkronisasi dan diprediksi akan bergerak pada laju yang paling lambat sejak krisis keuangan global terakhir.

Tetapi, pertumbuhan global pada 2020 diproyeksikan mengalami sedikit peningkatan menjadi 3,4 persen, direvisi turun 0,2 persen dari proyeksi April. Kendati begitu pemulihan ini masih juga tidak berdampak luas.

Advertisement

Penasihat Ekonomi IMF, Gita Gopinath, mengatakan pertumbuhan global untuk tahun ini dan tahun depan berada jauh di bawah capaian pada 2017 yakni sebesar 3,8 persen. Sebab, risiko terhadap prospek pertumbuhan mengalami peningkatan.

Banyak faktor yang menyebabkan pertumbuhan global tertekan, salah satunya persoalan ketidakpastian negosiasi dagang antara AS-China yang tak kunjung usai.

Di sisi lain, sektor jasa di sebagian besar ekonomi dunia terus bertahan dan menopang pasar tenaga kerja tetap kuat serta mendukung pertumbuhan yang sehat di negara maju.

Advertisement

Namun perlu diingat, pertumbuhan ekonomi dunia yang melemah diikuti dengan kebijakan moneter yang longgar baik di pasar ekonomi maju maupun berkembang.

"Kebijakan moneter tidak mungkin menjadi satu-satunya andalan, harus ada dukungan fiskal di mana ruang geraknya tersedia dan kebijakan belum terlalu ekspansif," ungkap Gopinath.

Adapun beberapa revisi penurunan terbesar untuk pertumbuhan terlihat pada ekonomi maju di Asia. Itu seperti Hong Kong, Korea, dan Singapura, akibat paparan mereka terhadap perlambatan pertumbuhan di China dan dampak dari ketegangan perdagangan AS-China.

"Pertumbuhan ekonomi pada 2019 telah direvisi turun di semua pasar berkembang besar dan ekonomi berkembang, sebagian terkait dengan ketidakpastian perdagangan dan kebijakan dalam negeri," pungkas dia.

Reporter: Bawono Yadika Tulus

Sumber: Liputan6

Baca juga:
Keberhasilan dan Kegagalan Pemerintah Jokowi Periode I di Mata Pengusaha
Menko Darmin Beberkan Kekuatan dan Kelemahan Ekonomi RI di Tengah Resesi Global
Sri Mulyani Waspadai Penurunan Investasi di Akhir Tahun
Menteri Airlangga Ungkap Industri 4.0 Buat Pertumbuhan Ekonomi RI Lewati 5 Persen
Kadin: Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen, Pengusaha Tahan Diri untuk Ekspansi
Hingga 2021, Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Diproyeksi Melambat
Pemerintah Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Capai 5 Persen

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.