Harga minyak anjlok, Pertamina diminta turunkan harga BBM
Harga keekonomian BBM jenis Premium sudah dibawah Rp 7.400 per liter.
Anjloknya harga minyak dunia saat ini dinilai harus diikuti dengan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Harga minyak dunia saat ini sudah menyentuh USD 45 per barel.
PT Pertamina mengklaim mengalami kerugian hingga mencapai Rp 15 triliun akibat penjualan BBM jenis Premium. Namun, kerugian Pertamina tersebut dibebankan masyarakat karena harga keekonomian Premium dibawah harga yang dijual saat ini Rp 7.400 per liter.
"Itu bertentangan dengan UU Keuangan negara. Tidak bisa kerugian BUMN dibebankan ke masyarakat," ujar Ketua Komisi VII DPR RI Kardaya Warnika di Jakarta, Rabu (30/9).
Kardaya menegaskan seharusnya Pertamina meminta pemerintah untuk menurunkan harga Premium. Lantaran, BBM subsidi merupakan kewenangan pemerintah bukan Pertamina.
"Itu artinya harga premium itu keputusan pemerintah. Saya juga bingung, karena tidak ada alasan kenapa Pertamina dan pemerintah tidak menurunkan harga BBM. Harusnya kan turun," kata dia.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) meminta pemerintah segera evaluasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Hingga saat ini, Pertamina mengalami kerugian Rp 15 triliun dari penjualan BBM premium.
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan hitungan kerugian itu bagi BBM penugasan atau wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali).
"Kita berharap ada kepastian pemerintah sendiri ada evaluasi (harga). Total (kerugian) sampai Agustus sekitar Rp 15 triliun. Untuk BBM saja dan khusus penugasan," ujar dia di Jakarta, Jumat (25/9).
Baca juga:
Pertamina tunggu instruksi pemerintah turunkan harga BBM
Ekonomi tengah sulit, DPR minta pemerintah turunkan harga BBM
Harga BBM harusnya bisa turun Rp 2.000 per liter
Stafsus era SBY desak Presiden Jokowi segera turunkan harga BBM
November, pemerintah putuskan harga baru BBM
Pemerintah pastikan tutup rugi Pertamina akibat jual murah Premium