Gubernur Bali Minta TPID Perkuat Pengendalian Inflasi Jelang Hari Raya dan Akhir Tahun
Gubernur Bali Wayan Koster menginstruksikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan guna mengendalikan inflasi menjelang Hari Raya Galungan, Kuningan, serta libur akhir tahun, demi menjaga daya beli masyarakat.
DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, memberikan arahan tegas kepada Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali untuk meningkatkan kewaspadaan dan upaya pengendalian inflasi. Permintaan ini disampaikan menjelang peningkatan kebutuhan masyarakat yang dipicu oleh perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, serta libur panjang akhir tahun. Langkah antisipatif ini krusial untuk memastikan ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, dan kelancaran distribusi kebutuhan pokok di seluruh wilayah Bali.
Arahan tersebut disampaikan dalam High Level Meeting (HLM) TPID Bali di Denpasar, pada Jumat (15/11). Gubernur Koster menekankan pentingnya menjaga inflasi tetap rendah agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah lonjakan permintaan. Sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, dan pelaku usaha menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi gejolak harga.
Data inflasi Bali pada Oktober 2025 menunjukkan angka yang relatif terkendali, yakni 2,61 persen secara tahunan (year-on-year) dan 0,16 persen secara bulanan (month-to-month). Meskipun demikian, Gubernur Koster mengingatkan bahwa potensi peningkatan harga komoditas pangan strategis serta naiknya permintaan masyarakat menjelang hari raya dan akhir tahun harus direspons cepat agar inflasi tidak melonjak.
Kondisi Inflasi Terkini dan Kekhawatiran Gubernur
Pada Oktober 2025, inflasi Bali tercatat 2,61 persen secara tahunan dan 0,16 persen secara bulanan. Angka ini menunjukkan kondisi yang terjaga, terutama setelah Bali sempat mengalami deflasi pada bulan-bulan sebelumnya. Namun, terdapat perbedaan signifikan antar wilayah, dengan inflasi tertinggi di Kota Denpasar sebesar 3,29 persen dan terendah di Kabupaten Badung sebesar 1,65 persen.
Gubernur Koster menyoroti bahwa peningkatan harga sejumlah komoditas pangan strategis, serta naiknya permintaan masyarakat menjelang hari raya dan akhir tahun, menjadi faktor pendorong inflasi. Oleh karena itu, ia meminta TPID untuk fokus pada empat aspek utama: ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. “Kita harus memastikan stabilitas pasokan dan distribusi kebutuhan pokok agar inflasi tetap rendah dan daya beli masyarakat terjaga,” kata Wayan Koster.
Pemerintah Provinsi Bali meminta agar situasi inflasi yang masih terkendali saat ini dimanfaatkan untuk menentukan langkah antisipatif. Kolaborasi solid antar-instansi, termasuk TPID provinsi dengan kabupaten/kota, diharapkan semakin kuat dalam mengawal program pengendalian harga di lapangan. Hal ini penting untuk merumuskan langkah strategis yang lebih tepat sasaran dan efektif.
Analisis Bank Indonesia dan Komoditas Pemicu Inflasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa inflasi bulanan Bali sebesar 0,16 persen pada Oktober 2025 menunjukkan kondisi yang terjaga. Inflasi tahunan 2,61 persen juga relatif lebih kecil dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,86 persen. BI Bali telah membedah sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang inflasi dan deflasi untuk menentukan langkah antisipasi akhir tahun.
Komoditas penyumbang inflasi bulanan meliputi cabai merah, sawi hijau, daging ayam ras, emas perhiasan, dan jeruk. Sebaliknya, komoditas yang menjadi penyumbang deflasi antara lain beras, tomat, canang sari, bahan bakar rumah tangga, dan jagung manis. Erwin Soeriadimadja juga menyoroti komoditas dengan bobot pengaruh inflasi terbesar, yaitu beras, daging ayam ras, minyak goreng, telur ayam ras, dan daging babi.
Selain itu, komoditas dengan volatilitas harga tertinggi mencakup cabai rawit, cabai merah, tomat, dan sawi hijau, yang memerlukan fokus pengendalian khusus. Menjelang hari raya, secara historis, komoditas seperti canang sari, cabai merah, cabai rawit, pisang, jeruk, dan daging babi hampir selalu mengalami kenaikan harga pada periode Hari Raya Galungan dan Kuningan. Risiko tambahan di akhir tahun juga mencakup tingginya permintaan wisatawan, ketidakpastian cuaca, kenaikan harga emas global, serta potensi gangguan distribusi akibat gelombang tinggi dan angin kencang.
Data neraca pangan awal November 2025 menunjukkan bahwa stok beberapa komoditas seperti beras, minyak goreng, gula, dan daging babi masih relatif aman. Namun, ketahanan stok daging ayam, cabai rawit, dan tomat masih di bawah rasio 3, sehingga memerlukan penguatan pasokan lokal.
Strategi Pengendalian Inflasi Melalui 4K dan Dukungan Pusat
Menanggapi kondisi tersebut, BI Bali mengusulkan strategi 4K untuk pengendalian inflasi jangka pendek dan menengah. Strategi ini meliputi: Ketersediaan Pasokan melalui modernisasi pertanian (GAP, smart farming) dan penguatan cadangan pangan daerah; Keterjangkauan Harga melalui pasar murah, operasi pasar, dan sinergi dengan Bulog; Kelancaran Distribusi melalui pemantauan distribusi BBM & LPG, koordinasi satgas pangan, dan fasilitasi distribusi pangan; serta Komunikasi Efektif melalui publikasi informasi harga, jadwal pasar murah, dan diseminasi neraca pangan.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk, yang turut hadir, turut menegaskan pentingnya menjaga inflasi daerah. Ia menekankan perlunya pelaporan dan evaluasi rutin TPID, penguatan data dan monitoring harga pangan, serta respons cepat terhadap komoditas penyumbang inflasi. Wamendagri juga menyampaikan arahan terkait percepatan realisasi APBD, mengingat peran belanja pemerintah sebagai penggerak utama ekonomi.
“Pemda agar meningkatkan serapan anggaran, mengoptimalkan pendapatan daerah, menertibkan potensi kebocoran pajak, dan menghindari penumpukan belanja pada akhir tahun,” ujar Wamendagri Ribka. Arahan ini bertujuan untuk memastikan efektivitas kebijakan fiskal daerah dalam mendukung stabilitas ekonomi dan inflasi.
Sumber: AntaraNews