Gerak cepat pemecatan, disambut tepuk tangan
Butuh beberapa menit, buat 2.679 pekerja itu, mencerna kabar yang mereka dapatkan.
Deru mesin diselingi bebunyian cekatan tangan-tangan pekerja yang rata-rata perempuan terdengar di area mini factory pemotongan batang rokok seluas 300 meter persegi itu, sejak pagi sampai malam. Aroma tembakau masih menguar nyaris di seluruh area pabrik PT Hanjaya Mandala (H.M) Sampoerna Tbk, Kecamatan Kunir, Lumajang, Jawa Timur, Rabu, 14 Mei 2014.
Para buruh bekerja seperti biasa. Bagi yang dapat jatah kerja pagi, pekerjaan dimulai pukul 06.30 WIB tepat. Kegiatan mereka tuntas pukul 13.30 WIB. Pekerja di paruh kedua akan melanjutkan tugas meracik sampai mengemas Sigaret Kretek Tangan (SKT) itu jelang jarum jam menunjukkan pukul 20.30 WIB.
"Semua masih normal. Tumpukan tembakau di gudang persis di depan tempat kerja saya memotong rokok masih penuh," ungkap Ani Widyawati, 22 tahun, bekas pekerja pabrik yang memproduksi kretek merek Dji Sam Soe itu kepada merdeka.com di kediamannya, Desa Jatigono, Lumajang, Jumat (30/5).
Ani ingat persis suasana terakhir mereka bekerja sedikit riang lantaran besoknya pekerja libur Waisak. Leader dan mandor, atasan para buruh paling kasar tidak ada yang menampakkan raut sedih.
Pada 15 Mei, ketika buruh lain berlibur sebagian karyawan lebih dulu mengetahui kabar buruk tersebut. Maman (34), Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia bidang rokok, makanan dan minuman, di unit HM Sampoerna Lumajang mendapat informasi beberapa truk keluar masuk area pabrik tempat sehari-hari mereka mencari nafkah selama nyaris tiga tahun terakhir. "Prosesnya cepat sekali, manajemen mengemasi seluruh barang hanya dalam waktu semalam."
Ani bahkan melihat dengan mata kepala sendiri. Kebetulan rumahnya persis di depan pabrik. "Kok banyak truk tronton, ternyata semua langsung diambil. ATM, mesin, sampai kursi kerja kita lho, juga diambil," kata perempuan bekerja di bagian pengemasan ini.
Pada Jumat, 16 Mei 2014, buruh datang sesuai jadwal, pagi-pagi. Tawa terdengar di sana-sini ketika mereka bercengkrama. Tapi tak ada kegiatan pagi itu. Sebagian justru gembira tidak kunjung disuruh bekerja sampai pukul 08.00 WIB.
Huswatun Hasanah, 27 tahun, bekerja di bagian pemotongan menceritakan teman satu kelompoknya sebagian girang melihat pabrik melompong. "Dipikirnya kita disuruh libur. Kalau orang desa kan libur malah seneng," tuturnya.
Tapi, sebagian buruh tahu ada yang tidak beres. Apalagi semua pekerja dari shift pagi maupun sore datang pagi itu. Mereka disuruh duduk lesehan di area utama pabrik. Ruangan itu sepenuhnya bersih, hanya ada karpet dan seperangkat pengeras suara. Kesan lowong semakin menguat, sebab dinding pabrik didominasi cat putih.
Seorang kiai didatangkan dari Lumajang, mereka diajak berdoa bersama. Baru setelah doa selesai dipanjatkan, Wahyu, Kepala Pabrik mengambil mikrofon dan berpidato. Dia langsung minta maaf mewakili manajemen, bila pernah melakukan kesalahan pada karyawan. Selanjutnya, karyawan dipastikan tidak kembali bekerja sebab pabrik tutup sampai batas waktu belum ditentukan.
"Sewaktu diberi tahu tidak perlu bekerja lagi, teman-teman ada yang tepuk tangan, ada yang teriak hore. Saya bilang, 'lho ojo seneng rek, iki apene dipecat lho'," kata Ani.
Butuh beberapa menit, buat 2.679 pekerja itu seluruhnya mencerna kabar yang mereka dapatkan. Ketika semua telah paham kalau pekerjaan mereka hilang, barulah histeria terjadi.
"Semua pada nangis, ada yang langsung pingsan. Kita sambil nangis langsung peluk-pelukan. Mandor juga banyak yang menangis," kata Huswatun dengan mata berkaca-kaca.
Maman, sebagai pemimpin organisasi buruh, diberi tahu lebih dulu pukul 07.30 WIB. Bersama belasan Pengurus Unit Kerja (PUK) SPSI, dia sempat mempertanyakan keputusan manajemen. Tapi perusahaan sudah berkukuh menutup pabrik di Lumajang. Tak hanya mereka, pabrik kretek non-filter Sampoerna yang berusia lebih muda di Kecamatan Silo, Desa Garahan, Jember, ikut ditutup.
Proses pembersihan isi pabrik di Jember sama cepat dan taktis, tak sampai 24 jam. Termasuk ikut beres adalah kontrak kerja 2.300 karyawan di Garahan yang belum semuanya permanen. Maman menyebutnya serupa gerak cepat, tidak menyisakan nafas bagi para pekerja memahami apa yang sebetulnya terjadi.
"Tahu tak bisa melakukan apa-apa, sesama teman PUK langsung nangis. Saya awalnya kuat, tapi akhirnya nangis juga di hadapan manajemen," ucapnya.
Ani ingat, tangisan hebat terdengar dari rekan kerjanya yang seorang janda dan menghidupi tiga anak. Dua hari sebelumnya, mereka sempat membicarakan soal uang buat mencukupi kebutuhan hidup dan beberapa rencana buat masa depan.
"Rasanya kayak mimpi. Enggak menyangka kami semua dipecat," tutur perempuan yang bekerja dua tahun dua bulan di pabrik itu. Di Jumat nahas itu, 4.900 buruh pabrik rokok Lumajang dan Jember menangis.
Baca juga:
Sekali pecat, kamar kos hasil utang ikut tamat
Kuasa Phillip Morris dari buruh sampai petani
5 Pemakluman pemerintah saat Sampoerna pecat 4.900 karyawan
5 Cerita Sampoerna pecat 4.900 buruh rokoknya
Sampoerna yakin buruh linting setujui skema pesangon PHK