Gara-gara IMF, pesawat Habibie tak pernah mengangkasa
Pada saat krisis moneter 1998, IMF melarang piutangnya dipakai pemerintah buat mengembangkan N250.
Pesawat turboprop N250 yang dirancang BJ Habibie pada akhir 1990-an gagal dikembangkan dan sekarang mangkrak di PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Ini lantaran pada saat krisis moneter itu, BUMN yang dulu bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) tersebut gagal mendapat pendanaan dari Dana Moneter Internasioanl (IMF).
"Ini mangkrak bertahun-tahun, kan waktu itu IMF membuat persyaratan jika pinjamannya enggak boleh untuk PT DI. Mereka takut kita menjadi negara maju," ujar Kepala Humas PT DI Rakhendi Triyatna, di Bandung, kemarin.
Akibatnya, pemerintah gagal mengembangkan pesawat yang bisa menjadi kebanggaan nasional tersebut. Betapa tidak, pesawat sipil berkapasitas 60-80 penumpang jika berhasil dikembangkan bakal menjadi pesaing ATR, pesawat terbang buatan Perancis-Italia.
"Tinggal ngurus sertifikat saja sebenarnya, izinnya ke Amerika. Butuh uang triliunan untuk sertifikat penerbangan itu," jelasnya.
Direktur Komersial dan Restrukturisasi PT DI Budiman Saleh mengungkapkan pihaknya saat ini sudah sulit untuk menghidupkan kembali N250. Soalnya, pesawat tersebut dinilai sudah tidak mampu bersaing dengan ATR karena jauh tertinggal.
"Pasar N250 dikuasai ATR 72, saat ini sudah memproduksi 1000 unit. Terus N250 masuk, apakah anda yakin?" katanya.
Baca juga:
Selain Lion Air, satu maskapai lokal ikut minati N219 PT DI
Tahun depan, PT DI ekspor pesawat ke Korea
PT DI yakin tak akan dililit utang seperti Merpati
Tak mampu bayar, 1 pesawat Batavia Air mangkrak di hanggar PT DI
Mengintip aktivitas pabrik PT Dirgantara Indonesia di Bandung