LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Fasilitas pencampur minyak Pertamina bisa perkuat ketahanan energi

Pertamina menargetkan pembangunan fasilitas blending Tanjung Uban berkapasitas 260.000 kiloliter (kl) minyak selesai konstruksi pada November 2016. Fasilitas blending tersebut dapat mengurangi impor BBM hingga dua juta barel per bulan.

2016-10-09 14:00:00
BBM Subsidi
Advertisement

Keberadaaan fasilitas pencampuran (blending) minyak mentah PT Pertamina (Persero) di Tanjung Uban, Bintan, Kepulauan Riau dinilai merupakan upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.

"Upaya ini perlu diperluas dan diperbanyak minimal di lima pulau besar," ujar Anggota Unsur Pemangku Kepentingan, Dewan Energi Nasional (DEN) Syamsir Abduh di Jakarta, Minggu (9/10).

Menurut Syamsir, fasilitas blending dapat memenuhi tujuan jangka pendek, yakni menghemat biaya transportasi sehingga disarankan dilakukan dekat dengan sumber bahan baku dan pasar, mengurangi biaya investasi jika memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia seperti dermaga, akses jalan, tangki serta lokasi jauh dari permukiman penduduk.

Advertisement

"Prioritas pemilihan lokasi di Tanjung Uban akan mengurangi ketergantungan kita kepada negara tetangga Singapura sehingga meningkatkan bargaining power dan kewibawaan diplomasi energi kita," jelasnya.

Pertamina menargetkan pembangunan fasilitas blending Tanjung Uban berkapasitas 260.000 kiloliter (kl) minyak selesai konstruksi pada November 2016. Fasilitas blending tersebut dapat mengurangi impor BBM hingga dua juta barel per bulan.

"Kami tengah berupaya untuk bisa blending sendiri sehingga bisa mengurangi pembelian Mogas 88," kata Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Daniel Purba.

Advertisement

Fasilitas blending ini tidak hanya untuk memproduksi Mogas 88 atau Premium, melainkan juga Pertalite dan Pertamax. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Pertamina memproyeksikan fasilitas ini dapat memasok bahan bakar ke pasar Asia Pasifik, seperti Myanmar dan Kamboja yang masih menggunakan Mogas 88.

Menurut Daniel, Tanjung Uban sebelumnya memiliki fasilitas terminal BBM dengan kapasitas 60.000 kl kemudian dikembangkan dengan menambah empat tangki berkapasitas masing-masing 50.000 kl sehingga totalnya setelah pembangunan menjadi 260.000 kl.

Selain itu, dermaga yang semula berkapasitas 35.000 DWT juga dikembangkan menjadi 100.000 DWT sehingga dapat menampung kapal yang lebih besar serta mengurangi biaya logistik pengangkutan.

"Pembangunan fasilitas blending agar perseroan dapat mengolah Premium untuk kebutuhan dalam negeri, bahkan mengurangi impor hingga 2 juta barel per bulan," katanya.

Pengamat ketahanan energi dan pengajar geoekonomi Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) Dirgo Purbo, mengatakan langkah Pertamina mengembangkan fasilitas blending di Tanjung Uban merupakan bagian dari upaya pengurangan ketergantungan impor dan tentunya juga bagian dri program ketahanan energi.

"Sangat perlu (diperbanyak). Utamanya di kawasan Indonesia tengah dan timur Indonesia dampaknya sangat posistif terhadap cadangan devisa," imbuh Dirgo.

Baca juga:
Kurangi pemakaian BBM, Pertamina bakal buka toko ritel LNG di Bali
Menyedihkan, infrastruktur gas Indonesia kalah jauh dari Malaysia
Kereta api & truk Pertamina bakal disulap gunakan bahan bakar gas
Ini tanggapan Pertamina soal kilang Cilacap terbakar
Pipa pertamina di Indramayu bocor, pemotor terpanggang api
Tangki di kilang pertamina RU IV Cilacap terbakar
Kembangkan kilang di Indonesia, Pertamina serap ilmu dari Arab Saudi

(mdk/sau)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.