Faisal Basri nilai bencana asap bikin ekspor kertas merosot
Salah satu penyumbang devisa negara berasal dari ekspor pulp dan kertas.
Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri merasa pesimis pertumbuhan ekonomi bisa meningkat dengan adanya bencana kabut asap. Alasannya, salah satu penyumbang devisa ekspor dari industri pulp dan kertas bakal merosot.
"Kebakaran ini berdampak pada industri pulp dan kertas. Target perekonomian saya ragu bisa 4,7 persen. Ekspornya juga bakal di bawah target," ujarnya saat diskusi nasional di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Kamis (5/11).
Selain itu, kata dia, ada 12 produk Indonesia yang diboikot Singapura yang semakin memperparah penurunan ekspor. Dia juga menyayangkan pemerintah belum membuka ratusan perusahaan yang menjadi tersangka kebakaran hutan.
Ketidakpastian ini justru membuat persaingan industri pulp dan kertas di lapangan saling menghancurkan. Dengan menyebarkan kampanye negatif, lanjut Faisal, perusahaan-perusahaan tersebut saling menuding sebagai pelaku kebakaran hutan.
"Ini kesempatan menghancurkan kompetitor perusahaan saingan. Orang jadi bertanya-tanya ini kena tidak ya, itu kena tidak ya," jelasnya.
Sayangnya, pemerintah justru tidak tanggap untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dia menambahkan pemerintah baru turun tangan ketika kebakaran sudah meluas hingga ke beberapa titik lokasi.
"Alasan mereka tunggu dari daerah tetapkan bencana. Masa kalau sudah lintas provinsi masih didiamkan. Apalagi lintas negara," kritik Faisal.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha hutan Indonesia Purwadi mengatakan, kebakaran hutan ini membuat pasokan kayu hutan tanaman industri (HTI) kuartal III turun 29 persen menjadi 6,56 juta meter kubik (M3) dibanding kuartal II 9,26 juta M3. Pasokan yang berkurang berasal dari daerah bencana kebakaran hutan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
"Devisa ekspor pulp dan kertas turun dari saat ini USD 5,6 miliar per tahun," jelasnya.
Kondisi ini, juga berdampak kepercayaan perbankan akibat publikasi masif yang menuding HTI sebagai pelaku pembakaran hutan. "Harusnya mafia yang ditangkap, bukan kami perusahaan yang justru dirugikan juga," tukasnya.
Ahli Kehutanan IPB Ricky Avenzora mengatakan kebakaran hutan ini menimbulkan persaingan bisnis industri pulp dan kertas yang tidak sehat. Harusnya, kata dia, perusahaan pulp dan kertas tidak saling menyalahkan.
"Untuk itu, pemerintah hati-hati dalam selesaikan masalah kebakaran hutan. Jangan sampai malah menghancurkan industri kertas, pulp dan sawit," tegas Ricky.
Baca juga:
Pelemahan ekonomi China bikin pasar aset RI turun
Ketidakpastian global masih pengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia
Bencana asap berdampak negatif pada seluruh sendi perekonomian
Ini daftar penyumbang pertumbuhan ekonomi RI kuartal III 2015
BPS catat ekonomi RI tumbuh 4,73 persen pada triwulan III-2015