ESDM: Hilirisasi itu tidak mudah karena tak menarik
"Masalahnya (hilirisasi) tidak mudah dilakukan, karena tidak menarik, kurang insentif atau apa itu kita tidak tahu."
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Bambang Gatot, mengakui sektor pertambangan, khususnya hilirisasi masih menjadi masalah hingga saat ini. Padahal, pemerintah telah melakukan berbagai upaya termasuk memberi insentif guna mewujudkan hilirisasi, mengolah hasil tambang dalam negeri.
"Masalahnya (hilirisasi) tidak mudah dilakukan, karena tidak menarik, kurang insentif atau apa itu kita tidak tahu," ujarnya dalam diskusi Launching Buku Soetaryo Sigit di Gedung Tempo Scan, Jakarta, Senin (8/11).
Selain itu, permasalahan lainnya yang membuat hilirisasi menjadi sulit adalah perihal teknologinya. Bambang menilai sampai saat ini Indonesia masih belum memiliki teknologi yang canggih dan mendukung dalam hilirisasi pertambangan di Indonesia.
"Hilirisasi itu bagaimana meningkatkan engine of growth. Teknologi Indonesia untuk pertambangan yang advance kita belum punya," tuturnya.
Tidak hanya itu, proses pengolahan mineral dengan kapasitas besar juga belum ada di Tanah Air. Lebih parahnya, masih banyak pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter yang masih mangkrak dan melakukan ekspor mineral.
"Processing yang Made in Indonesia yang mengolah (mineral) cukup besar itu tidak ada. Produk hasil smelting itu kita ekspor juga, memang ada satu dua, seperti Krakatau Steel dia memproduksi Stainless steel, Tembaga. Tapi itu hanya 25 persen dalam negeri, sisanya ekspor, anoda slime, bauksit nikel, itu semuanya ekspor," jelas dia.
Dia berharap, pada 2025 mendatang, permasalahan-permasalahan hilirisasi yang terjadi saat ini bisa terselesaikan. Nantinya produk olahan dari smelter tidak lagi banyak dialokasikan untuk ekspor melainkan ke dalam negeri.
"Kalau itu terjadi tentu akan menjadikan kita bagus dalam perekonomian," tutupnya.
Baca juga:
Sulitnya izin di daerah bikin pemanfaatan panas bumi RI rendah
Tentukan harga panas bumi, ESDM gandeng Inggris dan Selandia Baru
Asosiasi: Sudah 34 tahun tapi baru bangun PLTP 1.500 MW
Pemanfaatan panas bumi Indonesia masih rendah, ini alasannya
Pertamina dinilai mampu 'ngebor' minyak di laut dalam