DPR nilai Pertamina keruk keuntungan dari penyaluran BBM
Dengan menurunnya keuntungan Pertamina dari sektor hulu, ada konsekuensi mereka mengambi keuntungan dari BBM."
Pertamina dinilai tengah memanfaatkan penjualan Bahan Bakar Minyak untuk mengeruk keuntungan. Terlebih lagi, saat ini, harga minyak dunia tengah mengalami kemerosotan.
"Sebelum harga minyak turun, 80 persen keuntungan Pertamina itu dari sektor hulu. Dengan menurunnya keuntungan Pertamina dari sektor hulu, ada konsekuensi mereka memaksa keuntungan yang lebih besar dari sektor hilir, yaitu BBM," kata Anggota Komisi VII DPR-RI Ramson Siagian dalam "Diskusi Kita" dihelat merdeka.com, RRI, IJTI, IKN, DML dan Sewatama, Jakarta, Minggu (24/1).
Dia melihat itu sebagai faktor penyebab pemerintah menahan penurunan harga BBM. Seharusnya, harga BBM saat ini bisa menyentuh Rp 5.600 per liter seiring kemerosotan nilai minyak dunia yang mencapai USD 30 per barel.
"Saya melihatnya begitu, jadi harga yang diumumkan menteri ESDM sudah terlalu tinggi dari realitas. Kalau dibuat aktual cost-nya, itu sudah lebih tinggi dari keekonomian pasar. Artinya rakyat memberikan subsidi ke pemerintah. Itu konsekuensi harga crude global rendah."
Dia mengungkapkan, harga minyak dunia diproyeksikan hanya sebesar USD 40 per barel hingga Agustus mendatang. Dimana, Arab Saudi berupaya agar harga bisa di bawah biaya produksi minyak mentah Rusia.
"Ini akan memengaruhi geopolitik internasional," katanya. " juga Ini praktis memengaruhi struktur APBN Indonesia."
Dalam APBN 2016, lanjutnya, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok USD 50 per barel. Dan, lifting atau produksi minyak diasumsikan 830 ribu barel per hari.
Kecenderungan harga di bawah USD 30 per barel seperti saat ini, sudah ada penurunan penerimaan dari minyak sekitar Rp 63 triliun," katanya.
Baca juga:
Genjot daya saing industri, Indef dorong penurunan harga BBM
Saat ini, Indef nilai harga BBM bisa Rp 5.500 per liter
Pemerintah diminta lebih transparan tetapkan harga jual BBM
DPR sebut harga BBM semestinya bisa turun hingga Rp 5.600 per liter