DPR: Jonan-Arcandra bakal tendang kepentingan elit politik
Kekuatan duet Jonan-Arcandra diyakini mampu memberikan angin segar di sektor energi terutama terkait revisi UU No 22 Tahun 2001.
Anggota Komisi VII DPR Zulkieflimansyah menangkis keraguan banyak pihak terhadap Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar yang minim pengalaman di sektor energi. Menurutnya, duet Jonan-Arcandra berani menendang kepentingan kalangan elit politik lantaran keduanya memiliki sikap tegas, jujur dan konsisten.
"Jadi tidak masalah tidak mengerti, wong sebelumnya juga gelarnya Ph.D semua kok, tapi ternyata buktinya apa, ujung-ujung kepentingan politik juga," ujar dia di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (29/10).
Kekuatan duet Jonan-Arcandra diyakini mampu memberikan angin segar di sektor energi terutama terkait revisi UU No 22 Tahun 2001.
"Saya kira dua sosok itu bisa menyempurnakan revisi UU ini, dan kami optimis. Dua sosok ini bisa memberikan warna baru di RUU ini," ungkapnya.
Pembahasan beleid ini telah berlangsung sejak 2010 lalu, namun sampai saat ini belum juga ditetapkan sebagai undang-undang migas yang baru. Menurutnya, duet Jonan dan Arcandra saat ini akan mempercepat revisi UU Nomor 22 Tahun 2010 yang sudah bertahun-tahun tidak terselesaikan.
"Ada dua sosok baru, Jonan yang fokus ke cost recovery, agar efisien sehingga bisa mengembangkan lapangan migas. Lalu Arcandra konsen pengembangan EsDM," ucapnya.
Saat ini, progres revisi UU Migas memasuki tahap finalisasi. Namun, dia mengaku belum mengetahui dengan pasti perkembangan selanjutnya.
"Kalau di DPR finalisasi sudah menjelang selesai, memang di komisi VII ada dua panja, panja migas, panja minerba. Tapi mudah-mudahan apa yang dikhawatirkan bisa diakomodir dalam revisi UU tersebut," kata dia.
Baca juga:
DPR: Duet Jonan-Arcandra percepat pembahasan revisi UU Migas
Menteri Jonan dipusingkan sistem pengawasan program BBM satu harga
Per Oktober, lifting minyak sudah lampaui target APBN-P 2016
Jonan: Tak masalah Pertamina rugi Rp 800 M terapkan BBM satu harga
Jonan: Tidak ada proyek 35.000 MW sejak 40 tahun lalu