DKP2KH Kepri Selidiki Kenaikan Harga Ayam dan Beras di Batam, Pedagang Resah
DKP2KH Kepri bersama Satgas Pangan Polda Kepri turun tangan menyelidiki penyebab kenaikan harga ayam dan beras di Batam, di tengah keresahan pedagang kuliner yang terpaksa menaikkan harga jual.
Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Kesehatan Hewan (DKP2KH) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tengah berkoordinasi dengan Satuan Tugas (Satgas) Pangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepri. Koordinasi ini dilakukan untuk mengecek langsung penyebab kenaikan harga komoditas ayam dan beras di Kota Batam.
Kepala DKP2KH Kepri, Riza Azmi, menyatakan bahwa pihaknya akan segera turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan. Langkah ini diambil guna memastikan tidak ada pihak-pihak tertentu yang mengambil keuntungan di tengah fluktuasi harga pangan.
Meskipun harga jual ayam di tingkat pedagang saat ini mencapai Rp40 ribu per kilogram dan beras pada Rp15.500 per kilogram, Riza menyebut angka tersebut masih dalam batas Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, kenaikan harga bahan pokok ini telah memicu keresahan di kalangan pedagang kuliner lokal.
Penyelidikan DKP2KH Kepri dan Satgas Pangan
DKP2KH Kepri telah memulai langkah konkret dengan berkoordinasi bersama Satgas Pangan Ditreskrimsus Polda Kepri. Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah untuk melakukan pengecekan menyeluruh terhadap rantai pasok dan distribusi komoditas ayam serta beras di Batam. Penyelidikan ini diharapkan dapat mengungkap faktor-faktor di balik kenaikan harga yang terjadi.
Riza Azmi menjelaskan bahwa harga ayam potong di tingkat peternak masih berada di kisaran normal, yakni sekitar Rp26 ribu per kilogram. Menurutnya, harga jual di tingkat pedagang sebesar Rp40 ribu per kilogram masih dianggap wajar karena belum melampaui HET yang ditetapkan untuk wilayah Kepri.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa harga ayam sempat mengalami kenaikan secara nasional pada akhir tahun 2025, dipicu oleh faktor harga pakan jagung. Namun, kondisi tersebut seharusnya sudah tertangani, sehingga harga ayam diharapkan kembali normal. Oleh karena itu, pengecekan ini penting untuk mengidentifikasi apakah ada potensi pengambilan keuntungan tidak wajar oleh pihak tertentu.
Dampak Kenaikan Harga pada Pedagang Kuliner Batam
Kenaikan harga ayam dan beras secara langsung berdampak signifikan pada sektor kuliner di Kota Batam. Pedagang kaki lima, khususnya yang menjual hidangan populer seperti ayam geprek dan ayam penyet, merasakan tekanan ini. Mereka terpaksa menyesuaikan harga jual produk mereka untuk menutupi biaya operasional yang meningkat.
Di sentra kuliner kawasan perumahan Bida Asri 1, hampir semua pedagang telah menaikkan harga porsi makanan antara Rp1.000 hingga Rp2.000. Salah satu pedagang ayam penyet, yang akrab disapa Bude, mengungkapkan bahwa harga ayam penyet dengan nasi dan tahu tempe yang sebelumnya Rp20 ribu, kini naik menjadi Rp21 ribu per porsi.
Kenaikan harga ini telah berlangsung selama sekitar satu pekan, seiring dengan meningkatnya harga bahan baku. Bude mencontohkan, harga beras 25 kilogram yang biasa ia beli kini mencapai Rp380 ribu dari sebelumnya Rp340 ribu. Sementara itu, harga ayam yang dibeli Bude juga mencapai Rp40 ribu per kilogram.
Faktor Penyebab dan Upaya Penormalan Harga
Meskipun DKP2KH Kepri menyatakan harga beras masih terpantau normal sesuai HET Rp15.500 per kilogram, realitas di lapangan menunjukkan adanya kenaikan di tingkat pengecer dan pedagang. Hal ini mengindikasikan adanya disparitas harga antara tingkat distributor dan konsumen akhir.
Riza Azmi menegaskan pentingnya pengecekan untuk memastikan bahwa kenaikan harga tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang mencari keuntungan. Transparansi dalam rantai distribusi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga pangan.
Upaya penormalan harga akan terus dilakukan melalui pemantauan ketat dan koordinasi antarlembaga terkait. Diharapkan, dengan adanya intervensi dari Satgas Pangan, spekulasi harga dapat diminimalisir dan harga pangan kembali stabil demi kenyamanan masyarakat dan keberlangsungan usaha pedagang.
Sumber: AntaraNews