Demi Ketahanan Energi RI, PLN EPI Gandeng Pemprov Kembangkan Ekosistem Biomassa
Hingga Februari 2025, PLN EPI telah memenuhi kebutuhan biomassa untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLN sebesar 275.579 metrik ton.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) tengah fokus memperkuat ketahanan energi di Indonesia Timur. Salah satunya dengan pengembangan ekosistem biomassa melalui kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Direktur Biomassa PLN EPI, Antonius Aris Sudjatmiko menegaskan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan PLN dalam mewujudkan ekosistem biomassa yang berkelanjutan.
"Kami melihat potensi besar biomassa di NTT untuk mendukung transisi energi nasional. Sinergi antara Pemerintah Daerah dan PLN akan menjadi kunci keberhasilan pengembangan energi terbarukan ini," ujar Aris dikutip di Jakarta, Rabu (16/4).
PLN EPI, sebagai Subholding PLN yang bertanggung jawab atas penyediaan energi primer, terus memperkuat perannya dalam transisi energi. Hingga Februari 2025, PLN EPI telah memenuhi kebutuhan biomassa untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLN sebesar 275.579 metrik ton.
PLN EPI terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan pasokan energi primer yang andal dan ramah lingkungan, sekaligus mendukung target bauran energi terbarukan pemerintah.
"Pengembangan biomassa di NTT adalah salah satu langkah strategis kami untuk mendukung target bauran energi hijau nasional. Dengan kerja sama yang baik, kami optimis program ini dapat berjalan optimal," kata Aris dalam Kunjungannya ke Gubernur Nusa Tenggara Timur yang juga dihadiri Anggota DPD RI asal NTT, Angelius Wake Kako.
Dengan sinergi antara PLN EPI dan Pemerintah Provinsi NTT, diharapkan ekosistem biomassa dapat menjadi model pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan target PLN untuk meningkatkan pemanfaatan energi hijau dan mendukung transisi energi.
Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menekankan bahwa pengembangan biomassa dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan biomassa sumber daya lokal.
"Biomassa bisa berasal dari berbagai sumber, seperti sampah organik, kayu, jerami, tongkol dan batang jagung, serta kotoran ternak. Dengan potensi besar di NTT, kita perlu mendorong pemanfaatan ini secara optimal", ujar Melki.
Selain itu, Gubernur menyoroti beberapa komoditas lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi biomassa, seperti cangkang kemiri, lamtoro, gamal, dan kulit biji mete yang bisa diolah menjadi sumber energi melalui keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok biomassa berbasis ekonomi kerakyatan.
Direktur Biomassa PT PLN EPI, Antonius Aris Sudjatmiko, menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan kesiapan PLN untuk bekerja sama dalam pengembangan biomassa di NTT.
Sementara itu, Anggota DPD RI, Angelius Wake Kako, melihat kolaborasi ini sebagai peluang bagi masyarakat untuk mengoptimalkan sumber daya alam yang belum tergarap secara maksimal.
"Jika dikelola dengan baik, biomassa dapat menjadi sektor ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat desa", katanya.