China tambah modal perbankan Rp 276 miliar, terbesar sejak September
Likuditas di pasar China berkurang karena anjloknya pasar saham di perdagangan kemarin.
Otoritas China menyuntik modal perbankan dengan jumlah sangat banyak atau terbesar sejak September 2015. Kebijakan ini diambil untuk menenangkan pasar ekuitas sehari setelah anjloknya pasar saham yang mengguncang pasar keuangan global.
The People's Bank of China (PBOC) menambah modal perbankan mencapai USD 19,95 miliar atau sekitar Rp 276 triliun selama pasar terbuka. Laporan Dow Jones mencatat, langkah ini juga diikuti dengan tidak diperpanjangnya batas kredit dari China Development Bank. Langkah ini memicu kekhawatiran investor bahwa bank sentral kemungkinan akan mengetatkan kebijakan.
"Selama satu tahun ke belakang, PBOC tidak biasanya melakukan suntikan besar hanya untuk alasan musiman. Mungkin ada unsur kondisi likuiditas yang berkurang karena jatuhnya pasar saham kemarin," ucap ekonom China Capital Economics, Julian Evans-Prichard seperti ditulis CNBC, Selasa (5/1).
Reuters melaporkan bahwa bank sentral China juga diduga melakukan intervensi nilai tukar yang membuat Yuan jatuh ke titik terendah sejak 2011.
Di awal 2016 ini, pasar saham China anjlok parah dan membuat otoritas setempat menghentikan sementara perdagangan. Anjloknya pasar saham dipicu ketakutan investor karena lemahnya data manufaktur.
Dilansir dari CNN, Shanghai Composite Index kemarin anjlok 6,9 persen dan Shenzhen Composite Index telah merosot lebih dari 8 persen. Pemberhentian perdagangan dilakukan sebagai bentuk rem darurat, dan ini baru pertama dilakukan.
Investor bereaksi terhadap data survei yang menunjukkan kondisi sulit di sektor industri atau pabrik China. Sebab, sektor pabrik selama ini menjadi sangat penting bagi negara itu.
Setelah mengalami peningkatan selama dua bulan, survei yang dilakukan kelompok media China, Caixin menunjukkan bahwa index data manufaktur China jatuh ke level 48,2 pada Desember. Padahal, di bulan sebelumnya index ini masih berada di level 48,6.
Ekonom mengatakan, data survei manufaktur yang baru sangat mengecewakan dan menunjukkan bahwa China menghadapi perlambatan ekonomi yang parah atau tak terduga.
"Sementara data resmi indeks mengisyaratkan beberapa pelemahan lebih lanjut di sektor manufaktur," ucap analis di Capital Economics.
Pada Desember lalu, otoritas di China mengumumkan kebijakan rem darurat di pasar saham untuk menghindari terulangnya kerugian parah di pertengahan tahun lalu.
Mulai Senin ini, setiap kenaikan atau penurunan saham 5 persen di Shanghai dan Shenzhen akan memicu penghentian perdagangan selama 15 menit. Namun, jika koreksinya tembus 7 persen, maka perdagangan hari tersebut harus dihentikan.
Rem darurat ini sebelumnya sudah digunakan di pasar saham Amerika Serikat dan dirancang untuk memberi waktu menenangkan diri pada investor.
Baca juga:
BI prediksi pelemahan ekonomi China pukul pertumbuhan RI 0,6 persen
Tak hanya Rupiah, nilai tukar Yuan China juga melemah terhadap USD
Bursa saham China anjlok parah, perdagangan dihentikan
Pasar saham China anjlok parah dipicu 'perang' Saudi lawan Iran
Meneropong kondisi ekonomi China di 2016