China Minati Produk Ikan Teri Asal Nusa Tenggara Timur
Kepala Desa Hadakewa, Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Klemens Kwaman mengatakan produk ikan teri yang dihasilkan badan usaha milik desa setempat (BUMDes) setempat diminati pihak perusahaan dari China. Dia mengaku belum mampu memenuhi permintaan dari negara tirai bambu tersebut.
Kepala Desa Hadakewa, Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Klemens Kwaman mengatakan produk ikan teri yang dihasilkan badan usaha milik desa setempat (BUMDes) setempat diminati pihak perusahaan dari China. Dia mengaku belum mampu memenuhi permintaan dari negara tirai bambu tersebut.
“Perusahaan dari China meminta produk ikan teri dari BUMDes kami, namun dalam jumlah besar sehingga belum bisa dipenuhi dengan produksi kami saat ini,” ujarnya dikutip dari Antara, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (7/9).
Saat ini produk ikan teri yang dihasilkan berupa teri mentah paling sedikit sekitar empat ton, yang selanjutnya diolah menghasilkan teri kering sekitar 1,5 ton. Pihak perusahaan dari China yang sudah pernah datang langsung ke Hadakewa meminta agar pasokan lebih banyak dari produksi saat ini sehingga belum bisa tercukupi.
"Karena itu kami belum bisa menandatangani nota kerja sama karena kami harus pastikan dulu persediaannya mencukupi dan berkelanjutan," paparnya.
Klemens mengatakan pihaknya terus mengupayakan peningkatan produktivitas ikan teri dengan menambah fasilitas pendukung terutama untuk pasokan bahan baku. Sementara itu pada 2019 ini BUMDes setempat juga mendapatkan dana bantuan sekitar Rp400 juta dari Pemerintah Kabupaten Lembata yang akan digunakan untuk menambah armada kapal bagan.
Klemens menyebutkan bahwa sejak usaha ikan teri dikerjakan pada 2017 lalu, terdapat sekitar 30 kapal bagan yang memasok bahan baku, namun sebagian besar merupakan nelayan dari luar Hadakewa.
“Karena itu dari bantuan ini akan kami gunakan untuk menambah empat armada kapal bagan lagi yang akan dikelola warga Hadakewa sendiri,” ungkapnya.
Dia mengatakan bahwa produksi ikan teri lebih banyak dipanen saat musim barat atau musim hujan, namun memiliki kesulitan dalam proses pengeringan yang membutuhkan panas matahari yang cukup.
“Karena ini kami upayakan dengan penambahan armada nantinya produksi akan lebih banyak saat musim panen, sehingga bisa menjawab permintaan pasar termasuk ekspor,” tutupnya.
Reporter:Evie Haena Rofiah
Baca juga:
Terkait Impor Ayam dari Brasil, Pemerintah Perbarui Aturan
Respons Uni Eropa Atas Pengenaan Bea Masuk Produk Susu ke Indonesia
Potensi Tujuan Ekspor RI, Asia Diprediksi jadi Penyumbang Perdagangan Global Terbesar
Pengusaha Minta Pemerintah Tegas Tangani Gempuran Baja Impor
Geliat Konveksi Lokal di tengah Ekspansi Tekstil Impor
Pengusaha: Industri Baja Dalam Negeri Cuma Dapat Pasar 37 Persen, Sisanya Impor China
2018, Nilai Perdagangan Uni Eropa dan Indonesia capai Rp410 Triliun