LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

CEO Mal Pasific Place: Penjualan barang mewah turun 20 persen

"Penjualan Hermes mungkin turun tapi sedikit," ucap CEO Pasific Place, Tan Kian.

2016-11-02 19:41:52
Ekonomi Indonesia
Advertisement

CEO Pasific Place Mall, Tan Kian menyebut penjualan barang mewah di Mal Pasific Place dibilangan SCBD, Jakarta mengalami penurunan sekitar 20 persen.

"Penjualan Hermes mungkin turun tapi sedikit, tapi kalau yang middle turun seperti G Star turun dan Lafayette juga turun," katanya saat ditemui di Pasific Place Mall, Jakarta, Rabu (2/11).

Dia menduga, penurunan penjualan disebabkan pertumbuhan ekonomi global yang tidak kunjung membaik. Kondisi serupa juga dialami negara tetangga, seperti Singapura.

Advertisement

"Singapura sepi, Hongkong sepi, China sepi. Tapi jika dibandingkan kita masih oke kok," ujarnya.

Di lain hal, Tan mengklaim penurunan penjualan karena banyak orang kaya Indonesia mengikuti Tax Amnesty sehingga harus membayar uang tebusan.

"Saya kira ada, ini butuh recover sampai tahun depan mudah-mudahan jangan terlalu lama, kalau mereka (penjual) enggak laku kan nanti nggak bisa bayar sewa juga."

Advertisement

Informasi saja, kondisi berbeda terjadi di Singapura, di mana banyak toko atau tempat perbelanjaan yang tutup. Selain itu, pengunjung mal juga sepi untuk melakukan aktivitas jual beli.

Mengutip laporan Bloomberg, banyak ruang kosong terlihat di pusat perbelanjaan. Bahkan, tingkat keterisian ruang belanja di mal Singapura menyentuh level terendah dalam 10 tahun terakhir. Padahal, harga sewa telah turun 1,5 persen dalam tiga bulan terakhir karena permintaan ruang belanja menurun secara signifikan.

Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong membenarkan ekonomi Singapura tengah melambat. Namun, dia membantah negaranya sedang mengalami krisis ekonomi. Menurutnya, Singapura tidak membutuhkan paket penyelamatan darurat, melainkan kebijakan jangka panjang untuk pertumbuhan.

Pada 2009 lalu, Singapura mengeluarkan paket penyelamatan ekonomi secara besar-besaran untuk memangkas biaya bisnis dan melindungi tenaga kerja. Namun, kali ini negara tidak membutuhkan karena masalahnya lebih kepada struktural.

"Ini bukan infeksi yang dapat disembuhkan dengan satu antibiotik, tetapi dengan sesuatu yang bisa bekerja dalam jangka panjang," ucapnya seperti dilansir dari btinvest.com, Rabu (2/11).

Baca juga:
Mal di Singapura mati & pengunjung sepi, pertanda krisis?
Miris, negara kaya minyak ini alami krisis ekonomi terburuk di dunia
Parahnya krisis ekonomi Venezuela hingga rakyat tak mampu beli makan
RI jadi salah satu negara terbaik tangkal perlambatan ekonomi dunia
Rupiah bertahan di level Rp 13.000-an per USD

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.