BWI Sasar Milenial Indonesia Ajak Bayar Wakaf
Nuh mengatakan, upaya pihaknya untuk memperbanyak wakif adalah dengan menggaet seluruh lapisan masyarakat. Dalam hal ini, tidak hanya orang tua saja, melainkan generasi milenial pun turut menjadi sasaran. Kedua, membenahi pola pikir masyarakat tentang wakaf. Ketiga, menciptakan nilai tambah dari wakaf itu sendiri.
Badan Wakaf Indonesia (BWI) terus berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi wakaf agar dapat berkontribusi dalam menguatkan perekonomian. Komitmen ini juga dilakukan sebagai upaya untuk memperbesar dunia perwakafan di Tanah Air.
Ketua BWI, Mohammad Nuh, membeberkan ada beberapa isu strategis dalam upaya memperbesar dunia perwakafan Indonesia. Salah satunya adalah isu mengenai wakif atau orang yang mewakafkan sebagian hartanya.
"Kalau ditanya apa yang harus dilakukan memperbesarkan dunia perwakafan? Pertama adalah gimana caranya memperbanyak wakif," kata Nuh dalam sambutannya pada saat acara Indonesia Wakaf Summit 2019, di Jakarta, Selasa (5/3).
Nuh mengatakan, upaya pihaknya untuk memperbanyak wakif adalah dengan menggaet seluruh lapisan masyarakat. Dalam hal ini, tidak hanya orang tua saja, melainkan generasi milenial pun turut menjadi sasaran.
"Mulai dari senior sampai milinial itu yang sampai sekarang kita harus dorong anak 15 tahun. Oleh karena itu kita ingin perbanyak wakif melalui literasi sehingga nanti dia (milenial) akan menjadi wakif," imbuh Nuh.
Mantan Menteri Pendidikan dan Budaya ini melanjutkan, isu kedua yakni mengenai pengelolaan harta wakaf itu sendiri. Menurutnya, pola pikir masyarakat tentang wakaf saat ini perlu dibenahi. Sebab, sebagian masyarakat masih beranggapan wakaf itu hanya berkaitan dengan masalah tanah.
"Kalau dulu wakaf sebatas urusan tanah maka Alhamdulillah pemikiran dari pendahulu kita harta wakaf semakin luas. Mulia dari tanah, royalti, apa saja sudah semakin berkembang dan memudahkan orang memberikan wakafnya," jelas dia.
Kemudian upaya terakhir dalam mengembangkan perwakafan yakni menciptakan nilai tambah dari wakaf itu sendiri. "Nilai wakaf adalah nilai tambah, oleh karena itu ciri yang paling gampang bagi umat memasuki peradaban modern adalah wakafnya maju apa tidak, kalau tidak maju berarti belum. tapi kalau perwakafan sudah modern maka di situ suatu kemajuan peradaban," pungkasnya.
Baca juga:
OJK sebut Bank Wakaf Mikro berbeda dengan badan wakaf
Rencana BPKH ambil alih tanah wakaf Aceh di Arab Saudi dikritik keras
Setiap bulan, zakat dari ASN Pemkot Bandung mencapai Rp 2 miliar
Selama 3 bulan, BNI Syariah berhasil kumpulkan wakaf Rp 3,2 miliar
Masyarakat RI lebih percaya wakafkan asetnya di yayasan
Bos OJK: Harta tak dibawa mati, lebih baik diwakafkan
Zakat dan wakaf sebagai motor pertumbuhan belum termanfaatkan