BRI Dukung Program Gentengisasi, Fasilitasi Pembiayaan Pengusaha Genteng dan Developer
Melalui skema KUR Perumahan, BRI siap memfasilitasi pembiayaan bagi pelaku usaha genteng yang telah memiliki kontrak kerja sama dengan pengembang perumahan.
Program gentengisasi yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hunian masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha bahan bangunan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI turut mengambil peran strategis dengan memfasilitasi pembiayaan yang menghubungkan pengusaha genteng dengan developer perumahan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa BRI hadir sebagai penghubung dalam ekosistem pembiayaan tersebut. Melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan, BRI siap memfasilitasi pembiayaan bagi pelaku usaha genteng yang telah memiliki kontrak kerja sama dengan pengembang perumahan.
"Peran BRI berada di tengah. Ketika sudah ada kontrak antara pengusaha genteng dan developer atau user, BRI siap memfasilitasi pembiayaannya. Kebetulan kita sudah ada KUR Perumahan, bahan bangunan seperti ini merupakan bagian dari KUR Perumahan," ujar Hery.
Ia menambahkan, sebagai bank yang memiliki fokus pada pengembangan UMKM dan ekonomi kerakyatan, BRI berkomitmen menyediakan akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil agar dapat memperluas produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat seiring dengan implementasi program gentengisasi.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan manfaat dukungan pembiayaan tersebut adalah Hena Gian Hermana, pemilik usaha pabrik genteng di kawasan Jatiwangi. Usaha yang telah berdiri sejak 1985 itu sempat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketatnya persaingan produk, tingginya biaya produksi, hingga keterbatasan modal.
"Berbicara usaha pabrik genteng tentunya tidak lepas dari pasang surut. Tantangan zaman, persaingan produk, biaya produksi tinggi, bahan baku terbatas, hingga berkurangnya jumlah pegawai menjadi faktor yang membuat banyak pabrik genteng tidak bisa bertahan," tutur Gian.
Perubahan mulai dirasakan setelah Gian menjadi nasabah KUR BRI. Akses pembiayaan tersebut digunakannya untuk membeli mesin cetak yang lebih modern serta memperbaiki tungku pembakaran agar proses produksi menjadi lebih efisien.
"BRI menjadi mitra utama bagi para pelaku usaha pabrik genteng, karena memiliki fasilitas pinjaman bunga rendah melalui KUR bagi pelaku UMKM seperti kami sehingga produksi bisa terus berjalan," ujarnya.
KUR BRI membuat kapasitas produksi meningkat
Berkat tambahan modal tersebut, kapasitas produksi meningkat dan kualitas genteng menjadi lebih seragam. Peningkatan produksi juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar yang turut terlibat dalam proses produksi, mulai dari pencetakan hingga pengangkutan.
Di tengah maraknya material atap modern seperti baja ringan dan genteng metal, Gian tetap optimistis bahwa genteng tanah liat memiliki pasar tersendiri, terutama bagi masyarakat yang mengutamakan ketahanan panas serta nilai estetika tradisional.
Ia juga menyambut positif program gentengisasi yang diinisiasi pemerintah. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi harapan baru bagi industri genteng lokal, khususnya di Jatiwangi yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi genteng di Indonesia.
"Program gentengisasi ini seperti oase di tengah gurun yang sudah lama dinantikan. Harapannya genteng Jatiwangi bisa kembali bangkit dan meningkatkan kesejahteraan para pekerja di industri ini," kata Gian.
Program Gentengisasi merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI
Sebagai informasi, program gentengisasi merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang mendorong penggantian atap rumah berbahan seng menjadi genteng tanah liat. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hunian masyarakat sekaligus menggerakkan sektor industri bahan bangunan berbasis UMKM.
Hery menambahkan bahwa dukungan pembiayaan melalui KUR Perumahan tidak hanya membantu peningkatan kualitas hunian masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Mulai dari meningkatnya aktivitas produksi UMKM bahan bangunan, penguatan rantai pasok industri perumahan, hingga terbukanya lapangan kerja di berbagai daerah.
Melalui skema tersebut, BRI berharap pelaku usaha genteng lokal dapat semakin berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat seiring implementasi program gentengisasi di berbagai wilayah Indonesia.