BPS: Pelemahan rupiah dongkrak ekspor Indonesia
Ekspor Oktober sebesar USD 15,72 miliar, meningkat 6,8 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebut pelemahan rupiah yang sudah terjadi sejak lima bulan terakhir mendongkrak kinerja ekspor Indonesia.
Berdasarkan data BPS, ekspor Oktober sebesar USD 15,72 miliar, meningkat 6,8 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Ini membuat neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar USD 42,4 juta.
"Turunnya Rupiah juga bikin ekspor naik," ujarnya saat konferensi pers di Jakarta, Senin (2/12).
Surplus perdagangan Oktober didorong oleh meningkatnya penjualan 10 golongan barang. Diantaranya, bahan bakar mineral (USD 107,5 juta), karet dan bahan dari karet (USD 70,9 juta), biji kerak abu logam (USD 86 juta), serta kendaraan dan bagiannya (USD 59 juta).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo memperkirakan Indonesia bakal kembali mencatat surplus perdagangan internasionalnya pada November. Dasarnya, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) ekspor non-migas bulan lalu terpantau naik 15,53 persen. Sedangkan IHPB impor, naik 7,15 persen.
Berdasarkan itu, konsumen dalam negeri diperkirakan mengerem pembelian barang impor. Sebaliknya, penjualan komoditas Indonesia ke luar negeri meningkat.
"Barang kita lebih murah, kita masih punya peluang surplus November," kata Sasmito.
Lain lagi pada Desember. Di pengujung tahun itu, impor diperkirakan kembali meningkat mengiringi belanja masyarakat, menyambut momen akhir tahun.
"Pada akhir tahun kita banyak butuh liburan, bahan bakar minyak. Jadi mungkin nanti Desember seimbang perdagangannya, karena impor kita banyak," tandasnya.
(mdk/yud)