BPS: Deflasi 0,46 persen pada April 2016, Tertinggi sejak 2000
"Ini menunjukkan perkembangan harga komoditi terkendali."
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,46 persen pada April 2016. Ini merupakan deflasi tertinggi sejak 2000.
"Ini menunjukkan perkembangan harga komoditi terkendali," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Senin (2/5).
Dengan demikian, laju inflasi tahun kalander (Januari-April 2016) tertahan di level 0,16 persen.
Dari 82 kota yang diteliti, sebanyak sebanyak 77 kota mengalami deflasi. Tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,79 persen dan terendah Singaraja 0,06 persen.
Sedangkan 5 kota terjadi inflasi. Tertinggi di Tarakan sebesar 0,45 persen.
"Dari 77 kota mengalami deflasi, di Sumatera seluruhnya deflasi. Jawa sebanyak 26 kota seluruhnya deflasi. Di luar Jawa ada 5 kota inflasi."
Sementara itu, ada beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi di bulan ini. Seperti bahan makanan deflasi 0,94 persen andil 0,22 persen.
Hal ini dikarenakan banyak komoditi yang mengalami penurunan harga. Seperti padi-padian, daging, beras, ikan segar, ikan olahan, padi, telur, dan bumbu-bumbuan.
Selain itu, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar juga terjadi deflasi 0,13 persen; tranportasi, komunikasi, dan jasa keuangan deflasi 1,6 persen.
Untuk makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami inflasi 0,35 persen; Sandang inflasi 0,22 persen; Kesehatan inflasi 0,31 persen; Pendidikan, rekreasi, dan olah raga inflasi 0,03 persen.
"Menurut komponen umum terjadi deflasi 0,45 persen, hanya komponen inti yang inflasi 0,15 persen, harga yang diatur pemerintah deflasi 1,7 persen dan bergejolak deflasi 1,04 persen. Sedangkan untuk energi deflasi 3,52 persen."
Baca juga:
April 2016, BPS catat harga gabah menurun
Warga yang tolak sensus ekonomi bisa kena pidana
Menko Darmin beberkan alasan pentingnya sensus ekonomi tiap 10 tahun
Sensus ekonomi, Menko Darmin ngaku tak punya usaha
Lepas petugas sensus ekonomi, Ahok minta data harus akurat