Bos BI Ungkap Alasan Naikkan Suku Bunga Acuan November Jadi 6 Persen
Selain menurunkan CAD, keputusan menaikkan suku bunga tersebut juga sebagai langkah antisipasi adanya perang suku bunga antar negara. Bank Indonesia juga akan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan eksternal.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyebut keputusan menaikkan suku bunga acuan November menjadi 6 persen sebagai langah lanjutan bank sentral untuk memperkuat upaya menurunkan defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) ke dalam batas yang aman. Selain itu, keputusan menaikkan suku bunga tersebut juga sebagai langkah antisipasi adanya perang suku bunga antar negara.
"Kenaikan suku bunga kebijakan tersebut juga untuk memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dengan mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan," kata Perry di Kantornya, Jakarta, Kamis (15/11).
Perry juga menjelaskan, untuk meningkatkan fleksibilitas dan distribusi likuiditas di perbankan, Bank Indonesia menaikkan porsi pemenuhan GWM Rupiah Rerata (konvensional dan syariah) dari 2 persen menjadi 3 persen serta meningkatkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial/PLM (konvensional dan syariah) yang dapat direpokan ke Bank Indonesia dari 2 persen menjadi 4 persen, masing-masing dari Dana Pihak Ketiga (DPK).
Di bidang kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia juga mempertahankan rasio Countercyclical Capital Buffer (CCB) sebesar 0 persen dan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) pada target kisaran 80-92 persen. "Ke depan, Bank Indonesia akan mengoptimalkan bauran kebijakan guna memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan."
Bank Indonesia juga akan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan eksternal, termasuk untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan sehingga menurun menuju kisaran 2,5 persen PDB pada 2019.
"Bauran kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah diyakini akan dapat mengelola dampak perubahan ekonomi global sehingga perekonomian tetap berdaya tahan di tengah ketidakpastian global," tutupnya.
Sebelumnya, Tahun 2019 diprediksi akan menjadi tahun dengan tren suku bunga naik imbas dari AS yang agresif melakukan kenaikan suku bunga di negaranya. Beberapa negara di kawasan regional diperkirakan akan berlomba menaikkan suku bunga acuannya guna menarik dana untuk menjaga likuiditas.
Baca juga:
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Menjadi 6 Persen
Uang Tak Layak Edar di Sumut pada Oktober 2018 Capai Rp 1,5 Triliun
Per Hari Ini, Aliran Masuk Modal Asing Capai Rp 42,6 Triliun
BI: Defisit Transaksi Berjalan Triwulan III-2018 Capai 3,37 Persen
Bank Indonesia catat inflasi minggu pertama November 0,16 persen
Ini faktor pendorong penguatan Rupiah versi Bank Indonesia
Bank Indonesia catat cadangan devisa Oktober naik menjadi USD 115,2 M