BI sebut pembangunan Indonesia tak berjalan tanpa utang asing
BI sebut pembangunan Indonesia tak berjalan tanpa utang asing. Sebab, kredit perbankan dalam negeri memiliki keterbatasan. Mirza mengatakan, dari total PDB Indonesia sebesar Rp 11.000 triliun, kredit perbankan hanya bisa mengcover 35 persen saja.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menyebut, tanpa utang asing, tak akan ada pembangunan di Indonesia. Sebab, kredit perbankan dalam negeri memiliki keterbatasan.
"Negeri ini tidak bisa membangun tanpa pembiayaan dari luar negeri," ujar Mirza saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Senin (24/10).
Mirza mengatakan, dari total PDB Indonesia sebesar Rp 11.000 triliun, kredit perbankan hanya bisa mengcover 35 persen saja. Sementara, sisanya bergantung pada pembiayaan asing.
"Kredit perbankan Rp 3.000 sampai Rp 4.000 triliun atau 30 sampai 35 persen saja kredit bank," ucapnya.
Menurutnya, jumlah Utang Luar Negeri (ULN) yang mendanai ekonomi Indonesia sejauh ini didominasi dari korporasi termasuk bank mencapai USD 160 miliar. Sementara, ULN pemerintah sebesar USD 140 miliar.
Mirza menambahkan, di negara tetangga, kemampuan pembiayaan kredit bank bisa mencapai 80 persen sampai 100 persen kebutuhan dana pembangunan nasional.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah menjalankan roda pemerintahan selama 2 tahun. Sejak awal, Jokowi-JK selalu menyerukan soal konsep Nawacita dan ajaran Trisakti Bung Karno yang akan dijalankan pemerintahannya.
Bicara soal ajaran Trisakti Bung Karno, ada tiga hal yang harus jadi pegangan yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya. Selama menjalankan roda pemerintahan, Presiden Jokowi justru dinilai semakin jauh dari konsep Trisakti dan Nawacita.
"Soal Presiden Jokowi, Bu Mega pasti sering bisiki jangan lupa Trisakti ajaran Bung Karno. Lalu kami bingung di mana trisaktinya? Kayak utang kita udah mulai lebih tinggi dari zaman SBY," kata pengamat politik Tjipta Lesmana.
Tjipta melihat, saat ini Indonesia justru semakin tergantung dengan bangsa asing. Dia mencontohkan masalah utang luar negeri, pengadaan kereta cepat sampai pembelian pesawat yang dilakukan menteri kabinet kerja.
"Saya kecewa ketergantungan RI dari aspek ekonomi dan pada asing makin tinggi dalam pemerintahan Jokowi utang udah USD 50 miliar. Bu Rini lalu pembelian airbus dan pembiayaan kereta cepat China utang lagi. Dimana mandiri ekonomi? makin kelihatan dan makin sangat tergantung," tegasnya.
Baca juga:
Bangun PLTGU 800 MW, PLN dapat utang USD 310 juta dari Jepang
Per Agustus, utang luar negeri Indonesia turun jadi Rp 4.203 triliun
Kesal ditagih utang Rp 1 juta, Ali bacok tetangganya hingga terkapar
China beri utang Rp 52 triliun ke 3 perusahaan BUMN
China beri utang USD 1 miliar bangun PLTU Cilacap
Dapat utang Rp 3,2 T, pemerintah bakal bangun Jalur Pantai Selatan
Bos OJK: 20 persen utang pemerintah dikeluarkan secara syariah