LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Berawal dari iseng, pengrajin dari bahan baku parasut raih omzet jutaan rupiah

Deva Handriyan (19), pengrajin gelang paracord di Kampung Sewu RT 01/08 Jebres Solo mengatakan, kerajinan tali paracord tersebut dibuat sejak 2016 ketika masih kelas 11 SMK di Solo yang diminati hanya kalangan teman sekolah saja.

2018-08-10 08:00:00
UKM
Advertisement

Pengrajin gelang dari bahan baku tali paracord atau parasut di Kampung Sewu Jebres Kota Solo yang awalnya hanya iseng membuat kerajinan tersebut, kini bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah.

Deva Handriyan (19), pengrajin gelang paracord di Kampung Sewu RT 01/08 Jebres Solo mengatakan, kerajinan tali paracord tersebut dibuat sejak 2016 ketika masih kelas 11 SMK di Solo yang diminati hanya kalangan teman sekolah saja.

Namun, kata Deva kerajinan gelang paracord yang dibuatnya kini sudah banyak diminati masyarakat.

Advertisement

"Saya dari kerajinan ini, bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan omzet rata-rata hingga Rp2 juta per bulan. Bahkan, jika lagi ramai order bisa kelipatannya," kata Deva yang mengaku lulusan SMK di Solo, seperti ditulis Antara.

Dia mengatakan selain membuat aksesoris gelang, juga jam tangan dan kalung yang selalu mengikuti tren masa kini.

Menurut Deva, awalnya hanya pandai soal tali menali seperti anggota Pramuka, tetapi terus dikembangkan dan akhirnya bisa untuk lahan bisnis.

Advertisement

Gelang tali paracord, kata Dewa, dijual bervariasi mulai dari Rp 8.000 per buah hingga Rp 90.000 per buah tergantung tingkat kerumitan dan bahan bakunya.

"Bahan baku tali paracord yang asli dari Amerika Serikat membeli cukup mahal per meter bisa mencapai Rp 120 ribu. Namun, bahan baku yang lokal hanya Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per meter," kata Deva yang kini sedang mencari perguruan tinggi untuk melanjutkan kuliah.

Menurut dia, kemampuan produksi rata-rata hanya 200 buah per bulan, karena dirinya hanya kerajinan rumah tangga dengan modal yang minim. Produksi hanya sesuai dengan pesanan yang datang dari Solo dan sekitarnya, seperti Jakarta, Lampung hingga Pulau Kalimantan.

"Hasilnya lumayan bisa untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, dan sebagian untuk keperluan sekolah," kata Deva.

Menurut dia, kerajinan hasil buatannya dengan biaya produksi sekitar 50 persen dari harga penjualannya.

"Cara memasarkan masih melalui online dan dari orderan teman-teman sekali pesanan bisa mencapai 100 hingga 200 buah," katanya.

Baca juga:
Minat UMKM pinjam KUR tinggi, target penyaluran 2018 akan dinaikkan Rp 3,53 triliun
Menko Puan: UMKM sudah mulai rasakan dampak Asian Games
Nasib pengrajin tempe di Sunter Jaya jelang Asian Games 2018
Fintech dinilai jadi salah satu kunci UKM Indonesia naik kelas
Jual durian lewat online, pria ini raup untung hingga Rp 212 miliar setahun
Bank Bukopin right issue, OJK girang bakal majukan UMKM Tanah Air

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.