Beda dari Virus Corona, Pemerintah Tak Khawatir Flu Burung Kembali Muncul di China
Belum selesai kasus virus corona, China kembali mengalami serangan flu burung atau H5N1. Virus mematikan ini terdeteksi di salah satu peternakan kota Shaoyang, Provinsi Hunan Selatan. Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, mengatakan flu burung bukan virus baru. Dia mengatakan proses penanganan pasti sudah dilakukan.
Belum selesai kasus virus corona, China kembali mengalami serangan flu burung atau H5N1. Virus mematikan ini terdeteksi di salah satu peternakan kota Shaoyang, Provinsi Hunan Selatan.
Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, mengatakan flu burung bukan virus baru. Dia mengatakan proses penanganan pasti sudah dilakukan.
"Kalau itu kan berkaitan dengan virus sudah pernah terjadi, seperti SARS. Penanganan sudah dilakukan," kata Mendag Agus di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (3/2).
Sementara virus corona merupakan masalah baru yang belum pernah ada sebelumnya. Sehingga penanganan virus corona berbeda dengan kasus flu burung. "Jadi penanganannya beda walau agak mirip-mirip," kata Mendag Agus.
Dalam kasus virus corona, upaya pencegahan yang dilakukan dengan mengatur pergerakan manusia. Bukan hanya turis, tetapi juga para pelaku bisnis yang keluar masuk di dalam dan luar negeri.
Pemerintah dihadapkan dilema dalam hal ini. Satu sisi ingin melindungi negara dari penyebaran virus. Di sini lain juga tidak bisa menghambat dunia usaha.
Untuk itu perlu cara yang tepat dalam menyampaikan informasi virus corona kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kepanikan. "Supaya di lapangan (masyarakat) tidak terlalu khawatir," kata Mendag Agus mengakhiri.
Pemerintah Bentuk Pusat Informasi Penanganan Virus Corona
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menghadiri rapat koordinasi tingkat menteri di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian membahas tindak lanjut pencegahan penyebaran virus corona dari Wuhan di China. Dalam rapat tersebut dibahas dua kebijakan.
Pertama membentuk layanan informasi di tiap isu. Misalnya tentang layanan informasi penerbangan maskapai. Tujuannya untuk memudahkan masyarakat yang membutuhkan informasi. "Jadi akan jelas (masyarakat) harus menelfon siapa dengan nomor berapa," kata Menteri Retno.
Menteri Retno menyebut saat ini Kementerian Kesehatan juga sudah membuka posko di Natuna. Mereka juga menyertakan nomor telpon yang bisa dihubungi oleh masyarakat.
Kedua, isu yang dibahas terkait dampak dari situasi yang sedang terjadi. Dalam kondisi ini sektor pariwisata jadi yang pertama mengalami pergolakan. "Terdampak nomor satu adalah pergerakan manusia maka yang terdampak pariwisata," kata Retno.
Tak hanya di Indonesia, sejumlah negara juga telah membatasi pergerakan manusia. Maka, sudah barang tentu akan berdampak di sektor pariwisata.
(mdk/bim)