Batan: Biaya tarif listrik dari nuklir lebih murah 50 persen
Anggaran pembangunan PLTN sangat besar hingga mencapai Rp 60 triliun.
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto mengklaim pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) lebih hemat ketimbang pembangkit lainnya. Bahkan, tarif listrik dari nuklir lebih murah 50 persen dari energi lainnya.
"Sebenernya kalau hitungan kita listrik USD 12 sen per kwh maka PLTN bisa dihitung sebesar USD 6-7 sen per kwh. Jadi mungkin bisa separuhnya dari listrik yang sekarang," ujar dia Gedung BATAN, Mampang, Jakarta, Senin (28/12).
Dia mengakui anggaran pembangunan PLTN ini memang sangat besar. Namun, kapasitas listrik yang dihasilkan hampir mencapai 1.000 megawatt (MW).
"Karena legalitas kita belum membolehkan uranium dari dalam negeri untuk dieksploitasi secara komersial. Belum membolehkan itu berarti belum ada dasar hukum yang pas untuk eksploitasi," kata dia.
Djarot pun menyambut baik respon positif masyarakat terhadap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Hal ini tidak lepas dari kesadaran masyarakat akan pemenuhan kebutuhan listrik yang tinggi.
"Reaksinya sebenernya bagi kami sesuatu yang menggembirakan. Bahwasannya masyarakat memahami nuklir dari sisi kebutuhan listrik. Masyarakat sadar bahwa resiko ada, tapi mereka sadar jika nuklir memiliki sisi yang baik yaitu bisa memberi listrik yang cukup banyak dan stabil," pungkas dia.
Baca juga:
Batan: Mayoritas masyarakat dukung pengembangan nuklir
Ini alasan Batan ngotot PLTN harus segera dibangun
ESDM: Listrik tenaga nuklir bagus dan cocok di Indonesia
Rusia dan Iran terus lobi Indonesia bangun pembangkit tenaga nuklir
Ini pusat pembangkit nuklir Jepang yang kembali diaktifkan