Bank Mandiri Paling Agresif Salurkan Kredit dari Dana Rp200 Triliun Pemerintah
4 bank Himbara sudah menyalurkan lebih dari setengah porsi dana yang diterimanya.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di lima bank milik negara (Himbara) telah terealisasi ke berbagai sektor produktif.
Dana ini diharapkan mampu memperkuat likuiditas perbankan sekaligus mendorong pertumbuhan kredit di akhir 2025.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menyebut realisasi per 9 Oktober 2025 cukup menggembirakan.
“Jadi kita berikan bunganya sama dengan remunerasi di Bank Indonesia, yaitu 80 persen dari suku bunga kebijakan. Kalau dengan suku bunga kebijakan terakhir itu jadinya sekitar 3,8 persen. Itu tentu lebih murah dibandingkan cost of fund perbankan yang kita tempatkan cash kita,” ujar Febrio di Kantor Pusat DJP Kemenkeu, Kamis (9/10).
4 Bank Salurkan Kredit Lebih dari 50 Persen
Menurut Febrio, empat bank Himbara sudah menyalurkan lebih dari setengah porsi dana yang diterimanya. Hanya Bank BTN yang masih mencatat realisasi rendah.
- Bank Mandiri: 74 persen
- BRI: 62 persen
- BNI: 50 persen
- BSI: 55 persen
- BTN: 19 persen
“Rata-rata sudah cukup tinggi. Jadi ini kita harapkan akan terus berlanjut. Karena bukan hanya kita pindahkan cash-nya, tetapi bunganya lebih murah. Sehingga mereka tentu akan memprioritaskan menggunakan uang ini untuk disalurkan ke sektor riil,” jelas Febrio.
Dorong Pertumbuhan Kredit hingga 10 Persen
Kemenkeu menilai penempatan dana ini akan langsung berdampak pada kenaikan kredit, baik modal kerja, konsumsi, maupun investasi.
Febrio menargetkan pertumbuhan kredit bisa tembus dua digit hingga akhir tahun.
“Kita harapkan kalau di Agustus kita masih 7 persen pertumbuhan kredit, nah ini kita berharap di akhir tahun ini bisa menuju ke 10 persen,” katanya.
Menurutnya, dorongan kredit akan memberi efek positif pada kinerja Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal IV 2025.
“Sehingga itu akan cukup real nanti di kredit modal kerja, kredit konsumsi, kredit investasi, dan sebagian akan langsung berdampak pada performance dari PDB kita di Q4 (2025),” pungkas Febrio.