Bank Jakarta Siapkan 4 Jurus Perluas Inklusi Keuangan hingga Tarik Investasi
Bank Jakarta menyiapkan empat strategi utama untuk memperluas inklusi keuangan, memperkuat UMKM, pembiayaan perumahan, dan menarik investasi.
Bank Jakarta menyiapkan empat strategi utama untuk memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung pembangunan Jakarta.
Langkah tersebut diarahkan untuk membangun keterhubungan yang lebih kuat antara masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem ekonomi perkotaan.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan tantangan Jakarta saat ini bukan lagi terletak pada ketersediaan infrastruktur maupun teknologi, melainkan pada konektivitas antar pemangku kepentingan yang masih perlu diperkuat.
“Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat,” ujar Agus di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Perluas Akses Keuangan dan Perkuat UMKM
Strategi pertama yang disiapkan Bank Jakarta adalah memperluas inklusi keuangan agar masyarakat dapat mengakses layanan keuangan formal secara mudah, aman, dan berbasis digital.
Menurut Agus, masih terdapat kelompok masyarakat yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
Langkah kedua difokuskan pada penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bank Jakarta menilai dukungan terhadap UMKM tidak cukup hanya melalui pembiayaan, tetapi juga perlu mencakup akses pasar, digitalisasi usaha, hingga penguatan rantai pasok.
“UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang dan masuk ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” katanya.
Dorong Pembiayaan Rumah dan Investasi
Selain sektor UMKM, Bank Jakarta juga memperluas fokus pada pembiayaan perumahan melalui program housing inclusion.
Program tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat, khususnya generasi muda, memperoleh akses pembiayaan rumah yang lebih terjangkau.
“Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” ujar Agus.
Strategi keempat diarahkan pada penguatan iklim investasi melalui peningkatan kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Jakarta. Menurut Agus, pembangunan kota tidak bisa hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tetapi juga membutuhkan dukungan investasi dari berbagai pihak.
Karena itu, Bank Jakarta berupaya mengambil peran sebagai penghubung antara kebutuhan pembiayaan pembangunan dengan potensi investasi yang tersedia.
“Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit, tetapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota,” tandasnya.