Bank Dunia nilai kebijakan moneter Indonesia berjalan baik, ini buktinya
Kebijakan moneter di Indonesia telah berjalan dengan baik, sehingga menjaga suku bunga riil pada wilayah positif dan mempertahankan ekspektasi inflasi. Hal itu turut terbantu upaya Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga sebanyak dua kali sebesar 25 bps.
World Bank atau Bank Dunia menilai kondisi keuangan global kini lebih ketat, serta volatilitas meningkat yang kemudian berkontribusi terhadap arus keluar modal dan depresiasi nilai Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD).
Country Director Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo A Chaves mengatakan, normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang diproyeksikan lebih cepat berdampak terhadap kondisi keuangan global yang juga telah mengalami pengetatan lebih cepat dari yang diperkirakan.
"Itu mengakibatkan terjadinya volatilitas di antara negara-negara berkembang dalam beberapa bulan terakhir. Pengetatan kebijakan AS menyebabkan defisit neraca pembayaran sebesar 1,5 persen dari PDB pada Q1 (kuartal 1), pertama kali dalam dua tahun terakhir," papar dia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/6).
Dia menyebutkan, nilai imbal hasil obligasi dan nilai Rupiah ikut mendapat tekanan sebagai dampak paparan Indonesia yang relatif tinggi terhadap investor portofolio asing. "Imbal hasil obligasi Indonesia naik 21 basis poin di kuartal 1, sementara Rupiah mencapai nilai terendah dalam 31 bulan terakhir terhadap USD," jelasnya.
Namun begitu, dia menyarankan, bila suatu negara mampu membuat kerangka kebijakan ekonomi makro yang sehat, itu dapat memberikan penyangga terhadap peningkatan volatilitas global.
Rodrigo menganggap, kebijakan moneter di Indonesia telah berjalan dengan baik, sehingga menjaga suku bunga riil pada wilayah positif dan mempertahankan ekspektasi inflasi. Hal itu turut terbantu upaya Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga sebanyak dua kali sebesar 25 bps.
"Selain itu, nilai Rupiah secara efektif tetap 5,3 persen lebih kuat daripada saat Januari 2014, menyusul akibat yang berkepanjangan dari apresiasi riil yang terjadi setelah adanya Tapera Tantrum," pungkas Rodrigo.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Atasi kesenjangan ekonomi, Hipmi dukung pengesahan RUU Kewirausahaan
Menko Wiranto soal laporan BPK: Ini untuk memperbaiki sistem pengelolaan keuangan
Naik Rp 3.000, harga emas Antam dipatok di Rp 650.000 per gram
BPK catat 30 temuan signifikan, termasuk pengendapan uang hasil tilang
Bekraf sediakan fasilitas WiFi gratis untuk UMKM, ini syaratnya