Apindo nilai Tapera lemahkan daya saing pekerja Indonesia
"Pengembang yang menjalankan misi pembangunan perumahan bingung karena dananya tidak ada."
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Soekamdani mengatakan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) melemahkan daya saing para pekerja Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
"Kami diskusi sama Real Estat Indonesia (REI), Pak Eddy Hussy bilang bahwa pengembang yang menjalankan misi pembangunan perumahan bingung karena dananya tidak ada. Terlebih cost-nya mahal dan masih dipungut juga PPN (Pajak Pertambahan Nilai)," ujar Haryadi kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (26/2).
Haryadi menambahkan dalam lima tahun terakhir, kenaikan upah minimum sudah sebesar 14 persen. Selain itu, dengan iuran seperti Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kesehatan hingga cadangan pesangon, pemberi kerja harus menanggung 30,24-31,74 persen dari upah.
"Saya ilustrasikan, andaikata upah Rp 1 juta dengan iuran JKK 0,24 persen maka kenaikan upahnya adalah Rp 140 ribu karena 14 persen. Bagaimana dengan kenaikan Jaminan Sosial dan cadangan pesangonnya yang 10,24 persen dikali Rp1,14 juta yang hasilnya Rp207 ribu. Jadi kenaikannya Rp140 ribu ditambah Rp207 ribu atau Rp347 ribu. Inilah yang saya sampaikan kita menolak," tuturnya.
Haryadi menegaskan pengusaha ikut dibebankan dengan tingkat suku bunga bank Indonesia di sekitar ASEAN.
"Filipina itu suku bunga kreditnya 3 persen, Malaysia 5-6 persen, Singapura 5 persen."
Baca juga:
REI: UU Tapera tak lantas buat pengembang minat bangun rumah murah
Pemerintah janjikan bunga KPR 5 persen usai adanya UU Tapera
Apindo nilai Tapera lemahkan daya saing pekerja Indonesia
Hunian di kawasan Jakarta ini disebut akan terus naik
Siap siap, pengembang segera naikkan harga rumah