5 Strategi agar harga daging Ramadan Rp 80.000 seperti mau Jokowi
"Bagaimana pun kan dia (Jokowi) yang punya Negara yang buat keputusan. Tapi kan dia tidak tahu keadaan sebenarnya."
Sejumlah pedagang pesimistis harga daging sapi bakal turun hingga mencapai Rp 80.000 per kilogram. Itu merupakan level harga yang ditargetkan Presiden Joko Widodo bisa terealisasi sepanjang Ramadan hingga Lebaran mendatang. Presiden Jokowi mengatakan, persoalan pangan di Indonesia, termasuk daging sapi, berkaitan erat dengan perkembangan kebutuhan dan pasokan. Maka dari itu, menurutnya, penting untuk menambah pasokan seperti membuka keran impor. Sekretaris Kabinet Pramono menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo tak segan akan mencopot menteri maupun pejabat lainnya yang diketahui melarang maupun menghambat upaya membuat harga daging sapi menjadi Rp 80 ribu per kilogram. Harga daging sapi di beberapa pasar saat ini sudah menembus Rp 130.000 per Kg. Mahalnya harga daging sapi salah satunya disebabkan karena panjangnya rantai distribusi. Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran menilai pemerintah belum bisa menekan harga daging sapi hingga Rp 80.000 menjelang Ramadan ini. Sebab, masih ada peran kartel yang menyebabkan harga daging sapi kian meningkat. Pemerintah Jokowi-JK memberi lampu hijau kepada pihak swasta untuk melakukan kegiatan impor daging sapi. Selama ini impor hanya boleh dilakukan lewat Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
"Iya kalau kata Presiden mungkin masuk akal, tapi kalau buat kami susah," kata Ujang, pedagang daging sapi di Pasar Minggu, Jakarta selatan, saat berbincang dengan merdeka.com.
Menurut pria 45 tahun itu, ongkos transportasi menjadi salah satu penyebab harga daging sulit turun. "Kami ambil daging sapi dari rumah potong saja sudah berapa, belum transport kirimnya kan juga butuh biaya, jadi kalau Rp 80 ribu sangat susah," katanya.
"Bagaimana pun kan dia (Jokowi) yang punya Negara yang buat keputusan. Tapi kan dia tidak tahu keadaan sebenarnya."
Hingga saat ini harga daging sapi masih berada di atas Rp 100.000 per kilogram di tingkat eceran. Terhadap harga daging yang belum juga turun, Presiden Jokowi mengatakan, butuh waktu untuk bisa menurunkan harga daging sapi, terlebih lagi dalam periode Ramadan.
"Harus dilihat dulu, tak mungkin sehari dua hari turun. Nanti kalau harganya sudah dalam posisi yang kita inginkan, saya ke pasar. Ini kan demand supply, daging belum sampai. Nanti kalau sudah sampai saya ngomong," kata Presiden Jokowi di Kementerian Keuangan, Jakarta.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo memperkirakan, setiap tahun harga daging sapi akan terus naik. "Yang terasa itu daging sapi, di tahun 2012 harganya mencapai Rp 80.000/kg, 2013 harganya Rp 90.000/kg, 2014 harganya Rp 100.000/kg, dan pada 2017 harganya bisa di atas Rp 110.000/kg," kata Sasmito dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta.
Usai Ramadan, lanjutnya, memang akan ada penurunan. Namun, harganya tidak akan kembali ke posisi semula. "Ini yang menyebabkan harga daging sapi terus menerus naik. Jadi sebenarnya kita perlu trobosan baru. Seperti perintah Presiden Joko Widodo yang menginginkan kita harga jadi Rp 80.000 maka kita perlu waspada untuk kesana," imbuhnya.
Apa saja usulan yang mengemuka agar presiden bisa mewujudkan ambisinya? Berikut merdeka.com akan merangkumnya untuk pembaca.Impor daging
Guna mendorong capaian target tersebut, pemerintah membuka keran impor daging sapi sebanyak 27.400 ton. "Ya memperbanyak supply. Kalau supply tidak naik demand ya tidak cukup. Nanti dilihat," tuturnya.Copot menteri
"Ada upaya terutama bagi birokrasi yang memberikan perizinan di kementerian tertentu yang mempersulit izin, memperlambat, presiden telah memerintahkan untuk diganti dan dicopot," kata Pramono di Kantor Presiden, Jakarta.Potong rantai distribusi
Kepala Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf mengatakan, upaya untuk membuat harga daging menjadi murah tidak bisa dilakukan sepihak. Perlu koordinasi dan kerja sama antar lembaga untuk saling mendukung menyelesaikan akar permasalahan dari mahalnya harga daging.
"Perlu waktu yang jangka menengah panjang untuk menyelesaikan persoalan ini. Sehingga koordinasi misalnya dari kementerian perdagangan, Kementerian pertanian, termasuk kementerian perindustrian sangat penting karena ini yang akan menyiapkan pekerjaan sebagian orang yang berada di rantai distribusi yang panjang itu," ujar Syarkawi Rauf di kantornya, Jakarta.Matikan kartel
"Sebenarnya saya lihat, banyak tangan-tangan yang melemahkan penentu kebijakan. Jadi bagaimana daging itu bisa Rp 80.000? Pak Jokowi itu mana ada yang mau jual harga seperti itu?," kata Ngadiran di Warung Daun, Jakarta.
Dengan demikian, dia meminta agar pemerintah bersikap tegas dalam menertibkan kartel yang kerap memainkan harga, membatasi suplai, dan berkompetisi tak sehat sehingga menjadi akar susahnya penurunan harga daging sapi.
Menurutnya, pengusaha kartel ini masih sering bermain dengan politikus-politikus untuk memuluskan langkahnya.Swasta boleh impor daging
"Sekarang kami batalkan keputusan tersebut, sehingga impor daging sapi tidak harus lewat BUMN," ujar Menteri Perdagangan, Thomas Lembong di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Menurutnya, keputusan tersebut akan memperlebar dan membuka jalur importasi daging sapi. Sehingga diharapkan, akan dapat meningkatkan pasokan daging sapi dengan cepat.
"Tentunya sesuai dengan perundangan yang berlaku, dari sisi negara asal dan kebebasan dari penyakit," tutur dia.