4 Tantangan Bagi Pemimpin Perempuan di Perusahaan BUMN
Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo mengakui hingga saat ini tingkat gender diversity di tubuh BUMN masih minim. salah satu kerangka dari RJPP di KBUMN adalah pengembangan talent, dan salah satunya adalah diversity sebagai hal yang fundamental dan perlu dibangun di perusahaan-perusahaan BUMN.
Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo mengakui hingga saat ini tingkat gender diversity di tubuh BUMN masih minim. salah satu kerangka dari RJPP di KBUMN adalah pengembangan talent, dan salah satunya adalah diversity sebagai hal yang fundamental dan perlu dibangun di perusahaan-perusahaan BUMN.
"Kita ingin para leaders perempuan di BUMN untuk bertumbuh dan berkembang, saat ini emang masih rendah, dan memang harus diakui, BUMN ini tumbuh di budaya yang lebih laki di masa lalu," katanya dalam sesi diskusi Perempuan Berdaya, Indonesia Merdeka, Rabu (25/8).
Dia menjelaskan, ada empat tantangan yang perlu diatasi bagi pemimpin-pemimpin perempuan. Pertama adalah tantangan transformasi, terkait kecepatan transformasi model bisnis dalam menghadapi dinamika bisnis yang cepat.
"Ini tentunya membutuhkan energi lebih, bagaimana saya push untuk transformation. Terus saya kejar, kalau udah ngejar itu ya saya kejarnya mingguan, harian (kepada jajaran di BUMN)," katanya.
Kedua adalah terkait adaptasi di tengah pandemi, masa ini, menurutnya menuntut kecepatan dalam adaptasi dengan kondisi baru. Ketiga, adalah profesionalisme, ia menekankan profesionalisme ayng dimaksud adalah yang bersifat utuh, tak lagi yang hanya bersifat teknis.
"Harusnya diperusahaan ini juga kita sediakan consuler atau psikolog untuk membantu mereka-mereka yang mengalami tantangan dalam kondisi pandemi pekerjaannya menurun drastis atau bahkan mengalami permasalah pribadi," katanya.
Dan terkait hal ini, dia menilai pemimpin perempuan memiliki keunggulan. Misalnya dalam melihat keadaan mental dari pegawai-pegawainya. "Itu tentunya bagian dari gimana kita embrace, perusahaan juga harus juga humanis dan memperhatikan pegawainya," katanya.
Selanjutnya adalah poin Work-Life Balance, yang mana tantangannya adalah waktu yang fleksibel, bias gender, fasilitas atau dukungan ekosistem yang ada di lingkungannya. Wamen Kartika mengisahkan, bahwa pada posisi ini juga kaum laki-laki tak mudah untuk memahami perasaan orang, misal perasaan pegawainya.
"Di situlah justru peranan dari leaders wanita ini bagaimana lead, culturenya dari hati, bukan sekadar slogan," katanya.
Secara natural, perempuan memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan mendukung pegawai-pegawainya. Dia juga berpesan, bagi perempuan yang berada di dalam ekosistem kerja laki-laki untuk tidak mengikuti model kerja laki-laki.
Dia menyarankan untuk membuat corak dan karakter sendiri dalam kepemimpinan yang dijalankan oleh perempuan tersebut. "Keunggulan dari sisi nature-nya memberikan warna yang berbeda bahkan mempengaruhi bagaimana cara manage perusahaan," katanya.
Reporter: Arief Rahman
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Erick Thohir Ingin Kasus Korupsi Perum Perindo Segera Dituntaskan
Erick Thohir: Memilih Seorang Pemimpin Tonggak Penting Bagi Korporasi BUMN
Kejagung Periksa Vice President Perum Perindo Terkait Dugaan Korupsi
PLN Pasok 171.000 VA Tol Layang Pulo Gebang-Kelapa Gading
Komisaris Harap Proyek PP Properti di Cibubur Selesai Sesuai Target
Erick Thohir: BUMN Beri Kontribusi Nyata untuk Pekerja Migran