Waspada! Ternyata Tidak Hanya Kabar Buruk tapi Berita Bahagia Bisa Picu Serangan Jantung
Dokter menjelaskan bahwa bukan hanya berita buruk, tetapi berita baik juga dapat memicu serangan jantung, seperti yang sering ditampilkan dalam sinetron.
Dalam berbagai tayangan sinetron, sering kali kita menyaksikan adegan di mana seseorang mengalami serangan jantung setelah menerima kabar yang mengejutkan atau buruk. Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Susetyo Atmojo, fenomena ini juga dapat terjadi pada pasien jantung di kehidupan nyata.
Menariknya, bukan hanya berita buruk yang dapat memicu serangan jantung, tetapi berita baik pun bisa menjadi pemicu.
"Beberapa pasien, saya rasa tidak semua pasien mengalami serangan jantung (karena dengar kabar buruk). Suatu berita yang negatif atau hal yang sifatnya mendadak diterima, misalnya hal buruk," ungkap dokter yang akrab disapa Setyo saat ditemui oleh Health Liputan6.com di Jakarta Barat, Senin (5/5/2025).
"Atau bisa juga hal yang menyenangkan tapi pasien itu menyikapinya dengan berlebihan itu akan menimbulkan suatu penambahan beban pada jantung. Jadi denyut jantung akan meningkat. Nah kalau pasien memiliki penyempitan (pembuluh darah jantung) dia bisa anfal," tambah Setyo.
Dalam Seminar Awam dan Penapisan Dini Gagal Jantung yang berlangsung di Puskesmas Palmerah, Jakarta Barat, Setyo menegaskan bahwa serangan jantung yang menyebabkan seseorang jatuh atau anfal tidak hanya dipicu oleh berita mendadak, baik yang buruk maupun yang baik. Serangan ini bisa terjadi kapan saja, bahkan saat seseorang sedang tidur.
Kematian yang Disebabkan oleh Henti Jantung Mendadak
Setyo menjelaskan bahwa kematian mendadak, termasuk saat tidur, bisa disebabkan oleh henti jantung mendadak.
"Henti jantung mendadak dapat terjadi dalam berbagai situasi, tidak hanya saat melakukan aktivitas berat. Ini bisa terjadi saat kita tidur, duduk, berbicara di depan umum, atau bahkan saat bersantai dengan keluarga," ungkap Setyo.
Dia menambahkan, meskipun aktivitas berat dapat meningkatkan risiko henti jantung mendadak, pada dasarnya kondisi ini dapat terjadi dalam berbagai konteks aktivitas. Henti jantung mendadak umumnya disebabkan oleh gangguan pada irama listrik jantung yang berlangsung sangat cepat, yang dapat menyebabkan kolaps dan jantung berhenti secara mendadak.
Apa Penyebab Irama Listrik Jantung Tiba-Tiba Menjadi Cepat?
Setyo menjelaskan peningkatan kecepatan irama listrik jantung secara tiba-tiba dapat disebabkan oleh beberapa faktor.
"Biasanya, irama listrik mendadak cepat itu disebabkan sumbatan pembuluh darah koroner mendadak yang disebut sindroma koroner akut. Jadi sumbatan lemaknya (plak) itu pecah terus terjadi sumbatan mendadak sehingga menimbulkan gangguan irama listrik jantung," ujarnya.
Dengan demikian, penting untuk memahami penyebab dari kondisi ini agar bisa ditangani dengan tepat. Selanjutnya, ketika menghadapi situasi henti jantung mendadak, tindakan yang harus dilakukan sangat krusial.
"Yang paling baik ketika henti jantung mendadak, lakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau penanganan awal pijat jantung," katanya.
Tindakan ini dapat meningkatkan peluang keselamatan bagi pasien, sehingga pengetahuan mengenai cara melakukan RJP sangat penting untuk dimiliki oleh masyarakat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1726605/original/049965800_1506933360-DK3KpP4VYAAXaw1.jpg)