Tingkatkan Keamanan, Mahasiswa Unila Kembangkan Akses Sidik Jari di Lingkungan Warga
Inovasi ini diterapkan di RT 011, Lingkungan II, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Enggal, Kota Bandar Lampung.
Dalam upaya menekan angka pencurian sepeda motor di Lampung, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Lampung (Unila) bekerja sama dengan aparat desa membangun sistem akses berbasis sidik jari di lingkungan permukiman warga.
Inovasi ini diterapkan di RT 011, Lingkungan II, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Enggal, Kota Bandar Lampung. Akses masuk ke wilayah tersebut kini dilengkapi alat fingerprint yang hanya bisa digunakan oleh warga yang telah terdaftar.
Mahasiswa KKN, Satriawan Kencana, menyebutkan bahwa pemasangan alat ini merupakan bagian dari program kerja mereka selama menjalani KKN, sekaligus bentuk kepedulian terhadap keamanan lingkungan.
"Karena dulu pernah kehilangan motor juga. Jadi ini juga salah satu program kerja (proker) kita dan membantu warga di sini," katanya.
Sebelum menjalankan program tersebut, Satriawan dan tujuh anggota timnya terlebih dahulu melakukan observasi lingkungan untuk memastikan program ini bisa berjalan maksimal. Mereka juga berkoordinasi langsung dengan ketua RT dan warga sekitar.
"Sebelumnya pak RT sudah membuat tapi karena keterbatasan pengetahuan juga, jadi berkolaborasi dan disempurnakan kebetulan saya juga teknik elektro," jelasnya.
Setelah proses perakitan alat selesai, warga mulai mendaftarkan sidik jari mereka untuk mengakses pintu masuk yang telah dipasangi alat tersebut. Proses registrasi dilakukan melalui laptop yang terhubung ke sistem.
"Untuk registrasinya melalui laptop jadi jika bukan warga sini gak akan bisa masuk. Untuk kendalanya karena masalah coding yang kadang eror, kadang alatnya kebakar," ucap Awan.
Ketua RT 011, Edi Herwanto, mengapresiasi inisiatif para mahasiswa KKN tersebut. Menurutnya, kasus curanmor di wilayah itu memang cukup mengkhawatirkan.
"Pernah dalam satu malam ada dua sepeda motor hilang di bulan Juni kemarin. Warga sini juga motor tidak ada yang masuk ke dalam rumah," katanya, Rabu (20/8).
Sebelum adanya sistem fingerprint, warga sempat mencoba mengamankan lingkungan dengan membuat portal manual yang digembok, namun upaya tersebut kurang efektif.
"Sebelumnya memang ada rencana tapi karena kurang pengetahuan jadi satu bulan belum selesai, untungnya dibantu dengan anak-anak KKN jadi perakitan kurang lebih seminggu," ucapnya.
Edi menambahkan, selain alat sidik jari, lingkungan mereka juga telah dipasang kamera CCTV di beberapa titik sebagai langkah pengawasan tambahan.
Rencananya, sistem fingerprint akan dipasang di empat titik, namun saat ini baru tiga yang aktif, dan satu lagi masih dalam proses instalasi.
"Rencananya akan ada 4 titik yang dipasang fingerprint. Tapi sekarang baru 3 yang telah dipasang, dan satu masih dalam proses perakitan," kata dia.
Ia berharap upaya ini bisa menciptakan rasa aman bagi warga dan menekan tindak kejahatan di lingkungan sekitar.
"Kita sama-sama menjaga keamanan lingkungan. Dan berharap ini menjadi salah satu upaya dalam mengurangi angka pencurian yang tinggi di Lampung," katanya.