Terungkap! Seberapa Besar Bantuan Rusia ke Iran Dalam Perang Melawan AS-Israel
Iran sukses menyerang balik Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dengan presisi. Hal itu pun membuat dunia terkaget-kaget.
Iran telah membuktikan kemampuan militernya dalam melawan agresi Amerika Serikat-Israel. Perang yang awalnya ditarget hanya beberapa hari oleh Presiden AS, Donald Trump nyatanya telah berlangsung satu bulan.
Iran sukses menyerang balik Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dengan presisi. Hal itu pun membuat dunia terkaget-kaget.
Banyak pihak menduga Iran mendapat bantuan intelijen dari Rusia. Menurut sejumlah analis, data terkait aset militer Amerika Serikat yang dimiliki Iran diduga berasal dari sistem satelit mata-mata milik Rusia, yakni Liana. Sistem ini disebut sebagai satu-satunya jaringan satelit intelijen Moskow yang masih berfungsi penuh.
“Sistem (Liana) telah dibuat untuk memata-matai kelompok serang kapal induk AS dan pasukan angkatan laut lainnya serta untuk mengidentifikasi mereka sebagai target,” kata Pavel Luzin, peneliti senior di Jamestown Foundation, kepada Al Jazeera dikutip Jumat (27/3/2026).
Peran Rusia dalam Program Satelit Iran
Rusia juga diketahui berperan penting dalam pengembangan program luar angkasa Iran, termasuk satelit utamanya, Khayyam. Satelit tersebut diluncurkan pada 2022 dari kosmodrom Baikonur di Rusia.
Dengan bobot sekitar 650 kilogram, Khayyam mengorbit pada ketinggian 500 kilometer dan memiliki resolusi pencitraan hingga satu meter.
Menurut Luzin, Moskow secara teori dapat menerima dan mengolah data dari satelit Iran, sekaligus berbagi data dari satelitnya sendiri untuk kepentingan intelijen.
Hubungan Militer Rusia–Iran yang Saling Menguntungkan
Selama beberapa dekade, Rusia telah memasok berbagai persenjataan ke Iran, mulai dari sistem pertahanan udara, jet tempur, hingga kendaraan lapis baja, dengan nilai mencapai miliaran dolar.
Sebaliknya, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Iran juga memasok Moskow dengan berbagai perlengkapan militer, termasuk amunisi, artileri, hingga rudal balistik jarak pendek.
Letnan Jenderal Ihor Romanenko menyebut Rusia terus membantu Iran melalui “intelijen, data, para ahli, dan komponen” persenjataan, meskipun tidak terlibat langsung dalam konflik.
Evolusi Drone Shahed dan Taktik Baru
Salah satu elemen penting dalam kerja sama militer ini adalah penggunaan drone kamikaze Shahed. Drone ini dikenal lambat dan berisik, namun murah dan efektif dalam jumlah besar.
Dalam perang melawan Ukraina, Rusia telah memodernisasi drone Shahed dengan peningkatan kecepatan, daya hancur, serta tambahan teknologi seperti kamera, sistem navigasi, dan kecerdasan buatan.
Beberapa peningkatan tersebut kini disebut telah kembali digunakan oleh Iran. Bahkan, laporan menyebut drone Shahed dengan modul navigasi satelit Kometa-B buatan Rusia digunakan dalam serangan terhadap pangkalan militer Inggris di Siprus.
Efektivitas dan Keterbatasan Serangan Drone
Meski demikian, sejumlah analis menilai efektivitas bantuan Rusia terbatas. Nikita Smagin menyebut data intelijen memang membantu, tetapi tidak signifikan.
Peneliti Universitas Bremen, Nikolay Mitrokhin, mencatat penurunan signifikan intensitas serangan drone Iran. Dari semula hingga 250 drone per hari pada awal Maret, kini hanya sekitar 50 drone per hari.
“Iran kehabisan tenaga dengan sangat cepat,” katanya.
Kepentingan Rusia di Balik Konflik
Di sisi lain, Rusia dinilai tidak sepenuhnya berkepentingan atas kemenangan Iran. Konflik di Timur Tengah justru memberikan keuntungan strategis bagi Moskow, terutama dalam perang di Ukraina.
Kenaikan harga minyak global akibat ketegangan di kawasan disebut memperkuat posisi ekonomi Rusia. Hal ini memberi ruang bagi Presiden Vladimir Putin untuk melanjutkan operasi militernya.
Peneliti Ruslan Suleymanov menilai bantuan Rusia kepada Iran lebih bersifat simbolis daripada strategis.
Menurutnya, langkah tersebut hanya untuk menunjukkan bahwa Rusia tetap mendukung Iran, meski tanpa komitmen pertahanan formal.
Iran Andalkan Strategi Sendiri
Pada akhirnya, Iran dinilai memahami keterbatasan dukungan Rusia. Oleh karena itu, Teheran lebih mengandalkan strateginya sendiri, termasuk memperluas konflik ke kawasan dan menekan ekonomi global melalui lonjakan harga minyak.
Analisis ini juga sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Rusia “mungkin sedikit membantu” Iran dalam konflik ini.