Momen Lawas Abdel Fattah el-Sisi Dilantik Presiden Mesir Mohamed Morsi Jadi Menhan, Kemudian Hari Malah Berkhianat Mengkudeta
Momen Lawas Jenderal Abdel Fattah el-Sisi saat dilantik jadi Menteri Pertahanan Mesir.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi ramai menjadi sorotan karena menutup jalur penyeberangan Rafah sebagai gerbang masuknya distribusi bantuan kemanusiaan, saat Israel melakukan agresi militer ke wilayah Gaza, Palestina. Hingga kini, perbatasan Rafah masih ditutup Mesir padahal warga Palestina di Gaza tengah kelaparan.
Sosok pemimpin negeri Piramid tersebut memang sudah lama dikenal sebagai tokoh yang cukup kontroversial. Dia pernah menjadi orang yang memainkan peran utama dalam menggulingkan Presiden Mesir sebelumnya, Muhammad Morsi pada kudeta Mesir tahun 2013.
Padahal, Morsi adalah sosok yang berjasa pada kariernya, Morsi lah yang mengangkatnya menjadi Menteri Pertahanan. Video lawas merekam momen pelantikan tersebut kembali diperbincangkan setelah dibagikan oleh akun X @TurkiShalhoub.
Video Lawas Pelantikan Abdel Fattah el-Sisi
Jenderal Abdel Fattah el-sisi adalah seorang komandan militer yang pernah menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Mesir. Di masa kepemimpinan Presiden Morsi, dia dipercaya untuk menduduki kursi jabatan sebagai Menteri Pertahanan.
Dalam video yang diunggah, terlihat Sisi yang mengenakan pakaian dinas militernya mengucap sumpah jabatan langsung di hadapan Morsi. Setelah dibagikan, postingan tersebut langsung ramai mendapat beragam komentar dari warganet.
Tak sedikit netizen menyinggung soal 'pengkhianatan' yang dilakukan Sisi.
"Apa itu pengkhianatan? Pengkhianatan adalah 👇," tulis keterangan unggahan di akun @TurkiShalhoub.
Sosok Abdel Fattah el-Sisi kemudian ramai disebut sebagai seorang pengkhianat karena dia sebagai Menteri Pertahanan memegang peran penting dalam proses menggulingkan Presiden Morsi dari kekuasaannya.
Pada tahun 2013, masyarakat Mesir mengkritik kepemimpinan Presiden Morsi karena masalah kesulitan ekonomi yang tak kunjung usai. Hingga pada bulan Juni, Jenderal Sisi memperingatkan akan menurunkan tentaranya jika pemerintah tidak segera mengabulkan tuntutan rakyat.
Seiring meningkatnya tekanan publik, Sisi akhirnya mengeluarkan ultimatum pada tanggal 1 Juli 2013 supaya pemerintah dapat menyelesaikan krisis dalam waktu dua hari atau menghadapi invasi militer.
Morsi sempat melakukan negosiasi, namun ditolak dan akhirnya dia ditahan serta dicopot jabatannya pada tanggal 3 Juli. Kelompok Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi Islami di Mesir menggambarkan penggulingan Morsi sebagai sebuah pengkhianatan.
"Hari menyedihkan buat aspirasi demokrasi Mesir, pengkhianatan terhadap revolusi dan jutaan orang Mesir percaya pada demokrasi," kata kelompok itu sebagaimana dilaporkan Xinhua dikutip dari antaranews (4/7).
Setelah berhasil menggulingkan Presiden Morsi dari kubu Islam, Kepala Mahkamah Tinggi Konstitusional Adly Mansour ditunjuk sementara memerintah Mesir sampai presiden baru dipilih.
El-Sisi juga membubarkan Konstitusi Mesir 2012 dan mengusulkan peta jalan politik baru yang mencakup pemungutan suara untuk konstitusi serta pemilihan parlemen dan presiden baru.
Karir El-Sisi Hingga Jadi Presiden Mesir
Setelah Presiden Morsi lengser, Sisi kemudian mengangkat dirinya sebagai Deputi Pertama Perdana Menteri merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan. Sisi mengkonfirmasi pada 26 Maret 2014 bahwa ia akan mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan presiden 2014.
Sisi lantas mengumumkan pengundurannya dari militer dan memilih untuk ikut pemilu presiden. Dari situlah dia berhasil mengantongi mayoritas suara yakni 97 % dan menjadi Presiden Mesir.
Dia memerintah rezim otoriter di Mesir. Sisi juga kembali terpilih pada Pemilu 2018. Namun, pada saat itu Sisi bisa disebut menang dengan mudah karena beberapa lawan politiknya mundur ketika akan pemilu.
Morsi Buka Perbatasan Gaza, Sisi Menutup
Di bawah Presiden Mohamed Morsi (2012–2013), kebijakan pemerintah Mesir pro Palestina. Salah satunya adalah perbatasan utama antara Mesir dan Gaza, yaitu Rafah Crossing, secara signifikan dilonggarkan:
Dibukanya secara permanen Rafah Crossing untuk orang dan barang. Morsi memerintahkan agar penyeberangan itu dibuka sepanjang waktu, mendukung perdagangan dan mobilitas penduduk Gaza.
Selain itu, di era Morsi juga dilakukan penghapusan persyaratan visa bagi warga Gaza saat memasuki Mesir, memungkinkan lebih banyak pelintas tanpa hambatan administratif.
Aktivitas perdagangan dan ekonomi meningkat, termasuk penggunaan resmi jalur untuk impor barang, pengembangan usaha kecil, hingga beberapa kunjungan keluarga yang sebelumnya sulit terwujud .
Sementara setelah Morsi dilengserkan yang terjadi adalah kebalikannya. Di bawah Presiden Abdel Fattah al-Sisi, perbatasan Mesir–Gaza ditutup jauh lebih ketat dibanding era Morsi.
Selain itu, Mesir di era Sisi menghancurkan banyak terowongan penyelundupan di perbatasan, yang sebelumnya menjadi jalur ekonomi vital bagi Gaza. Penyeberangan hanya dibuka secara sporadis, misalnya untuk alasan kemanusiaan, pasien sakit parah, atau jamaah tertentu.
Sisi menuduh Hamas berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin (organisasi yang dinyatakan teroris di Mesir), sehingga alasan “keamanan nasional” dijadikan dasar pengetatan blokade. Rata-rata orang yang bisa menyeberang per bulan turun drastis dibanding era Morsi.