Melihat Budidaya Unta Pertama Di Mojokerto Jawa Timur, Harga per-Ekornya Fantastis
Siapa sangka, hewan yang selama ini identik dengan padang pasir jazirah Arab ini kini ada di Mojokerto, Jawa Timur.
Di sebuah sudut Dusun Dateng, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, aroma kotoran ternak dan deru debu pasir kali menciptakan atmosfer yang tak biasa. Di sini, Berkah Wafa Farm sedang mencoba menulis sejarah baru, membudidayakan unta di tengah rimbunnya alam tropis Jawa Timur.
Siapa sangka, hewan yang selama ini identik dengan padang pasir jazirah Arab ini justru didatangkan Faisal Effendi, pengelola peternakan, dari Negeri Kanguru.
"Di Australia, unta-unta ini populasinya berlebih, bahkan sudah dianggap hama. Kami melihat peluang itu untuk dikembangkan di sini sebagai bibit," kata Faisal saat berbincang santai di sela kesibukannya mengurus ternak, Rabu (13/5).
Perjalanan menghadirkan unta ke Mojokerto bukanlah perkara mudah. Faisal mengaku harus berjibaku dengan proses perizinan yang memakan waktu hampir satu tahun sebelum akhirnya mendapat lampu hijau dari Kementerian Pertanian.
Dari total 30 ekor yang didatangkan kolektif, Berkah Wafa Farm menjadi rumah bagi 4 ekor unta, dua jantan dan dua betina, setelah 3 ekor lainnya dipinjamkan untuk keperluan edukasi di Setia Farm Yogyakarta dan kebun binatang.
Cepat Beradaptasi
Meski baru menghuni Ngoro sekitar dua bulan, adaptasi hewan-hewan berpunuk satu ini tergolong luar biasa. Faisal mencatat, unta-unta miliknya kini lebih berisi ketimbang saat pertama kali mendarat yang cenderung kurus.
Menariknya, Faisal menyebut memelihara unta justru lebih mudah daripada sapi.
"Unta itu lebih cerdas dan tenang. Kalau sapi sering berontak, kalau ini lebih santai, lebih jinak," tuturnya.
Demi menjaga kenyamanan sang tamu dari benua seberang, Faisal menyiapkan perlakuan khusus. Di antaranya, kandang sengaja dilapisi pasir kali agar tidak lembap dan berfungsi sebagai sarana mandi pasir alami unta.
Selain rumput kering, unta-unta ini rutin diberi comboran dan vitamin sebulan sekali. Juga menjaga keamanan kesehatan secara ketat dengan vaksin LSD dan PMK.
Untuk pengunjung, sering diajak memberikan wortel secara langsung agar unta semakin familiar dengan interaksi manusia.
Harganya Fantastis
Di sisi lain, Faisal tak menampik bahwa unta miliknya mulai dilirik untuk kebutuhan kurban. Namun, ia mewanti-wanti bahwa harganya memang kelas sultan. Satu ekor unta usia 3-4 tahun dibanderol di kisaran Rp 200 juta.
"Memang jauh lebih mahal, setara empat sampai lima ekor sapi. Tapi bagi sebagian orang, ada nilai edukasi dan keunikan tersendiri," kata Faisal.
Bagi warga sekitar, Berkah Wafa Farm kini menjadi destinasi wisata dadakan yang murah meriah. Tanpa biaya tiket masuk, masyarakat bisa melihat langsung hewan yang kini dianggap hama di Australia ini kini tampil cantik dan bersih di bumi Majapahit.
Faisal optimis, dengan pola perkawinan alami, ia bisa segera melihat generasi unta pertama yang lahir asli dari tanah Mojokerto.
Potensi Berkah Wafa Farm ternyata menarik minat tokoh publik. AKBP Edy Herwiyanto, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, tampak hadir memantau langsung peternakan tersebut. Bukan sekadar berkunjung, ia memiliki rencana besar untuk memboyong kawanan unta tersebut.
"Saya tertarik karena ada saudara yang ingin membangun usaha mini zoo. Harapannya, varietas hewan di Indonesia semakin kaya," ungkap AKBP Edy yang terang-terangan ingin memborong stok yang tersedia.
"Rencananya ambil beberapa pasang, tapi yang ada tiga pasang, ya kita ambil semua nanti," lanjutnya.