Laporan PBB: Kenaikan Permukaan Laut Semakin Cepat, Manusia Jadi Biang Keroknya
Temuan tersebut tertuang dalam Penilaian Ketiga Samudra Dunia atau Third World Ocean Assessment (WOA III),
Samudra di berbagai belahan dunia menghadapi tekanan yang semakin berat akibat aktivitas manusia. Kondisi tersebut ditandai dengan meningkatnya laju kenaikan permukaan laut dalam satu dekade terakhir, sehingga mendorong perlunya langkah global yang lebih serius untuk mengatasi polusi dan perubahan iklim.
Temuan tersebut tertuang dalam Penilaian Ketiga Samudra Dunia atau Third World Ocean Assessment (WOA III), laporan yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengevaluasi kondisi samudra secara menyeluruh dari aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.
WOA III merupakan satu-satunya penilaian global terintegrasi mengenai kondisi samudra dunia. Kajian ini mencakup periode 2021 hingga 2025 dan disusun melalui kolaborasi lebih dari 650 ahli dari puluhan negara yang berasal dari berbagai sektor.
Aktivitas Manusia Memperburuk Ekosistem Laut
Laporan tersebut menyoroti bahwa tekanan terhadap samudra terus meningkat dan bersifat kumulatif. Berbagai aktivitas manusia, mulai dari pencemaran lingkungan hingga industri penangkapan ikan berskala besar, dinilai turut memperburuk kondisi ekosistem laut.
Berdasarkan hasil penilaian, aktivitas manusia telah menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dalam skala luas serta memberikan tekanan berat terhadap sistem samudra yang menopang kehidupan di bumi.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan laut, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketahanan pangan, ekonomi pesisir, hingga keseimbangan iklim global. Demikian dilansir Anadolu, Rabu (10/6/2026).
Kenaikan Permukaan Laut Semakin Cepat
Salah satu temuan utama dalam laporan itu adalah percepatan kenaikan permukaan laut dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelum 2015 kenaikan permukaan laut tercatat sekitar 2 milimeter per tahun, laju tersebut meningkat menjadi 4,3 milimeter per tahun pada 2023.
Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim terhadap lautan semakin nyata dan terjadi lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, laporan juga mengungkap bahwa sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 terjadi hanya dalam kurun waktu sejak 2018.
Temuan ini menunjukkan bahwa lautan menyerap panas dalam jumlah yang semakin besar, yang pada akhirnya dapat memicu berbagai dampak lanjutan seperti cuaca ekstrem, pemutihan terumbu karang, hingga gangguan terhadap ekosistem laut.
PBB Desak Kolaborasi Global
Menanggapi temuan tersebut, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan pentingnya perubahan cara pandang dunia terhadap laut dan sumber daya kelautan.
"Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya yang tak terbatas. Kolaborasi global yang mendesak diperlukan untuk melindungi ekosistem laut," tegas Antonio Guterres.
Ia menambahkan bahwa dunia perlu membangun hubungan baru dengan laut yang berlandaskan ilmu pengetahuan, berpegang pada hukum internasional, serta didasarkan pada tanggung jawab bersama lintas negara, sektor, dan generasi.
Menurut PBB, upaya kolektif dan kerja sama internasional menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan samudra sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim yang semakin mengancam ekosistem laut dunia.