Kembali ke Indonesia, Dokter WNI Buka-bukaan Apa yang Terjadi di Gaza
Kondisi Gaza yang kembali mendapat bombardir serangan Israel disebutnya begitu parah.
Seorang dokter asal Indonesia selesai menjalankan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina. Dia kemudian kembali ke tanah air pada Kamis (17/4) lalu. Saat baru saja tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dokter tersebut membeberkan situasi terkini dari Jalur Gaza.
Dia menyebut kondisi Gaza kembali mendapat bombardir serangan Israel yang begitu parah. Bahkan, dia mengatakan jika Gaza benar-benar dalam situasi yang tidak baik-baik saja.
Banyak nyawa melayang hingga kelaparan ekstrem di depan mata yang disaksikannya sendiri. Dalam keterangannya, dokter WNI tersebut berharap agar gencatan senjata dapat kembali terjadi. Berikut ulasan selengkapnya.
Dokter WNI Tiba di Tanah Air
Dokter spesialis anestesi asal Indonesia, dr. Wahyu Bimantoro pada Kamis lalu baru saja tiba di Tanah Air usai menjalankan misi kemanusiaan selama lebih dari satu bulan di Jalur Gaza. Sebagai bagian dari relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-8, kedatangan dokter Wahyu dalam akun TikTok @mercindonesia1 tampak mendapat sambutan hangat dari para rekan hingga orang terdekat.
Dalam kesempatan itu, dokter Wahyu turut bersaksi mengenai situasi mencekam yang harus dihadapinya setiap saat di Gaza.
“Kembali dari Gaza, dr. Wahyu Bimantoro ungkap situasi mencekam di balik serangan beruntun dari penjajah,” demikan dikutip dari keterangan unggahan.
Dia mengungkap, serangan Israel pasca gencatan senjata membuat situasi di Jalur Gaza semakin memburuk. Bahkan, dia menuturkan jika Gaza sedang tidak baik-baik saja dan cukup parah.
“Gaza saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja dan parah ya sejak tanggal 18 Maret kemarin,” tegasnya.
Puluhan serangan terjadi hampir di seluruh wilayah Gaza setiap harinya, menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka. Bahkan gedung milik PBB hingga rumah sakit milik Indonesia juga tak luput dari serangan.
Tragisnya, dokter Wahyu menambahkan jika serangan udara yang dilakukan Israel bisa terjadi 20 hingga 30 kali dalam satu hari. Meski menghadapi tantangan luar biasa, dia bersama tim medis di rumah sakit Indonesia mengaku dalam keadaan baik-baik saja.
“Serangan tidak menentu dan di seluruh wilayah Gaza. Kebetulan wilayah rumah sakit Indonesia termasuk banyak sekali mengalami pemboman di sekitarnya. Sehari bisa sampai 20-30 kali, dan itu rutin sejak awal. Tapi alhamdulillah kami semua dalam keadaan baik ya,” imbuhnya.
Akibat serangan dalam intensitas yang tinggi, Gaza menghadapi situasi berat. Penduduknya mengalami kelaparan dan kesulitan hidup pasca bantuan kemanusiaan kembali diblokade.
Bahkan, dia turut menyaksikan para dokter hingga jurnalis meregang nyawa lantaran serangan yang dilancarkan.
“Kekejaman Israel ini luar biasa dan warga Gaza nih kelaparannya luar biasa, kesulitannya luar biasa. Banyak dokter dan jurnalis juga yang syahid, para tenaga medis banyak mengalami kelelahan karena mereka sendiri merasakan kesulitan,” ceritanya.
Dia berharap, gencatan senjata bakal berlangsung kembali usai serangan Israel diluncurkan. Selain itu, dia turut berdoa agar bantuan kemanusiaan juga dapat dibuka demi menyelamatkan penduduk di Gaza.
“Kami harap bakal ada segera gencatan senjata dan segera ada pembukaan jalur-jalur bantuan makanan dan obat-obatan,” katanya.
Melalui keterangannya, dokter Wahyu berpesan kepada seluruh warga dunia agar tak mudah melupakan Gaza karena hingga saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan. Sebab, penduduk Gaza membutuhkan dukungan dan bantuan yang luar biasa besar.
“Tetap jangan lupakan Gaza, walaupun negara kita bukan tidak perlu bantuan tapi tetap ingat Gaza karena mereka sangat butuh bantuan. Mereka kelaparan, kesakitan, karena memang perang ini luar biasa panjang, sudah lebih dari setahun dan tidak seperti biasanya yang paling lama 40 hari. Ini benar-benar panjang dan membutuhkan ketahanan serta bantuan yang luar biasa,” tegasnya.
Gencatan Senjata di Gaza Dihentikan
Seperti diketahui, pada 18 Maret lalu, Israel kembali melanjutkan serangan ke Jalur Gaza setelah menghentikan kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas. Israel kembali menyerang dengan dalih bahwa Hamas menolak menerima rencana Amerika Serikat untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berakhir pada 1 Maret.
Israel juga memutus pasokan listrik ke pabrik desalinasi di Jalur Gaza dan menutup akses masuk untuk truk-truk pembawa bantuan kemanusiaan.
Kini, Gaza diketahui kembali harus menghadapi kesulitan. Kelaparan akut hingga nyawa melayang menjadi suatu hal yang harus dihadapi kembali. Aksi Israel yang kembali melakukan seranngan tersebut seketika menuai sorotan keras dari dunia.
Jumlah Korban Tewas di Palestina
Diketahui, Israel memulai agresi militer ke wilayah Palestina secara besar-besaran sejak 7 Oktober 2023. Setelah lebih dari satu tahun, kesepakatan gencatan senjata akhirnya disetujui pada 19 Januari 2025.
Namun, tentara Israel kembali melanjutkan serangan mematikannya di Jalur Gaza pada 18 Maret dan sejak itu telah menewaskan hampir 2.000 orang dan melukai lebih dari 5.200 lainnya.
Kementerian Kesehatan Palestina seperti dilansir Anadolu, mengungkap jumlah korban tewas selama peristiwa ini mencapai lebih dari 51 ribu jiwa. Sebagian besar korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.