Di Tengah Konflik Iran, 30 Anggota DPR Partai Demokrat AS Desak Trump Akui Israel Punya Senjata Nuklir
Program senjata nuklir yang dimiliki oleh Israel telah menjadi sorotan utama di kalangan masyarakat internasional selama bertahun-tahun.
Lebih dari 30 anggota Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Dalam surat tersebut, mereka menuntut agar pemerintahan Donald Trump secara terbuka mengakui keberadaan program senjata nuklir rahasia Israel.
Selama ini, Israel tidak pernah secara resmi mengakui adanya program tersebut, dan pejabat AS juga mempertahankan sikap ambigu selama beberapa dekade. Namun, para anggota Demokrat yang dipimpin oleh Joaquin Castro ingin mengakhiri ambiguitas ini, terutama di tengah situasi perang Iran yang masih tidak kunjung selesai.
"Kami, dalam arti sepenuhnya, sedang berperang berdampingan dengan sebuah negara yang program potensi senjata nuklirnya secara resmi ditolak untuk diakui oleh pemerintah AS," tulis para anggota parlemen dalam surat yang ditujukan kepada Rubio, dikutip dari TRT, Kamis (7/5/2026).
Mereka mengkritik sikap AS yang dianggap tidak konsisten, karena secara terbuka mengakui kemampuan nuklir negara lain, baik sekutu maupun lawan, seperti Rusia, China, Pakistan, India, Prancis, dan Korea Utara. Sementara itu, ambiguitas terkait program nuklir Israel tetap dipertahankan.
"Risiko salah perhitungan, eskalasi, dan penggunaan senjata nuklir dalam situasi ini bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis," tulis mereka.
Rubio Diberi Batas Waktu Paling Lambat 18 Mei untuk Menjawab
Para anggota parlemen juga menegaskan bahwa Kongres memiliki tanggung jawab konstitusional untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai keseimbangan nuklir di Timur Tengah. Mereka menekankan pentingnya pemahaman tentang risiko eskalasi yang mungkin terjadi dalam konflik ini serta langkah-langkah antisipasi yang diambil oleh pemerintah.
"Kami tidak yakin telah menerima informasi itu," ungkap mereka.
Dalam konteks ini, mereka mencatat bahwa Iran telah menargetkan fasilitas nuklir Israel di Kota Dimona selama perang yang berlangsung tahun ini. Mereka meminta Rubio untuk menjawab sejumlah pertanyaan terkait fasilitas tersebut, termasuk apakah fasilitas itu memproduksi material fisil untuk senjata nuklir, seperti plutonium.
Para anggota Demokrat mengutip informasi publik yang diungkap oleh Mordechai Vanunu, seorang teknisi di Pusat Penelitian Nuklir Negev, yang telah menyerahkan bukti mengenai program senjata nuklir Israel kepada media Inggris pada tahun 1986. Mereka juga merujuk pada penilaian intelijen AS tahun 1974 yang baru dipublikasikan pada tahun 2008 sebagai bukti keberadaan program tersebut.
Selain itu, mereka menyoroti kesaksian Robert Gates, saat masih menjadi calon menteri pertahanan, yang mengonfirmasi bahwa Israel memiliki senjata nuklir ketika membahas ambisi Iran.
"Mereka dikelilingi oleh kekuatan-kekuatan yang memiliki senjata nuklir --- Pakistan di sebelah timur mereka, Rusia di utara, Israel di barat, dan kami di Teluk Persia," kata Gates.
Para anggota parlemen tersebut meminta Rubio untuk memberikan tanggapan paling lambat 18 Mei. Dengan demikian, mereka berharap adanya kejelasan dan transparansi terkait isu sensitif ini, yang berpotensi memengaruhi stabilitas dan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Israel Memulai Program Nuklirnya pada Tahun 1950-an
Israel merupakan satu-satunya negara di dunia yang belum mengonfirmasi kepemilikan senjata nuklir. Pada tahun 2017, Israel mengambil langkah untuk memblokir negosiasi terkait Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir dan sejak saat itu, negara ini secara konsisten memberikan suara menolak resolusi Majelis Umum PBB yang berkaitan dengan perjanjian tersebut.
Meskipun sulit untuk menentukan secara tepat kapan Israel memulai program nuklirnya, diperkirakan bahwa pengembangan tersebut dimulai tepat sebelum Perang Enam Hari pada tahun 1967, ketika Israel berperang melawan Mesir, Suriah, dan Yordania.
Sejak awal tahun 1990-an, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengklaim bahwa Iran hampir memiliki senjata nuklir. Di sisi lain, Iran telah secara konsisten membantah bahwa mereka berupaya mengembangkan senjata nuklir dan menegaskan bahwa program nuklir mereka ditujukan untuk penggunaan sipil.