Pensiunan Tentara di Negara ini Laku Jadi Pejabat Cyber Security
Ketika serangan digital meningkat dan permintaan tenaga ahli melesat, industri ini mulai memandang pengalaman militer sebagai aset strategis.
Ribuan veteran militer di Inggris dan AS kini menemukan tempat baru di ranah yang sangat berbeda dari medan tempur, yakni keamanan siber. Ketika serangan digital meningkat dan permintaan tenaga ahli melesat, industri ini mulai memandang pengalaman militer sebagai aset strategis.
Menurut James Murphy, mantan tentara infanteri dan kini Direktur Veteran dan Keluarga di Forces Employment Charity, ketajaman naluri militer tetap berlaku.
"Kalau kamu lihat tong sampah di pinggir jalan dan tahu tak ada jadwal angkut hari itu, rambut di belakang lehermu bisa berdiri. Itu naluri yang tak bisa diajarkan di ruang kelas," katanya dikutip dari BBC, Selasa (3/6).
Data dari organisasi TechVets menunjukkan, 40–60 persen dari 15 hingga 20 veteran yang mereka bantu setiap bulan masuk ke bidang keamanan siber. World Economic Forum bahkan memperkirakan kekurangan tenaga profesional siber secara global telah mencapai angka 4 juta.
Mo Ahddoud, veteran Royal Artillery yang kini menjabat Chief Information Security Officer sementara, mengaku jalan yang ditempuh tidak instan. Ia sempat mempertimbangkan masuk ke kepolisian sebelum beralih ke kursus IT, lalu naik perlahan hingga menjadi pemimpin keamanan di perusahaan besar seperti Universal Studios dan BAE Systems.
"Pelatihan militer mengajarkan ketahanan, pengambilan keputusan cepat, dan ketenangan di bawah tekanan. Itu semua relevan di dunia siber," tegasnya.
Catherine Burn dari firma rekrutmen LT Harper menjelaskan bahwa perusahaan kini lebih terbuka terhadap eks-tentara, terutama untuk peran dalam tim keamanan (blue team).
"Mereka terbiasa bekerja dalam struktur, memahami komando, dan siap bekerja dalam tim dengan misi jelas," ujarnya.
Crystal Morin, mantan personel Angkatan Udara AS yang kini menjabat di perusahaan keamanan siber Sysdig, menyebut transisi ini sangat natural.
"Saya mulai dari intelijen keuangan saat Arab Spring, lalu ke analisis siber. Ini dunia yang sama-sama penuh ketegangan dan misi," ujarnya.
Ia mengaku masih merindukan masa aktif dinas, tetapi merasa tetap punya peran penting. "Saya tidak bisa lagi menangkap teroris langsung, tapi saya tetap menjaga sistem dari sabotase," katanya.
Meski begitu, adaptasi tetap jadi tantangan. Dunia sipil punya cara kerja dan istilah berbeda. Banyak veteran perlu bimbingan soal struktur jabatan, proses rekrutmen, hingga etika kerja. Tapi setelah mereka masuk dan membuktikan kemampuan, banyak perusahaan justru ingin merekrut lebih banyak.
"Biasanya setelah satu veteran direkrut, mereka minta lagi," ujar Murphy. "Yang dicari bukan cuma keterampilan teknis, tapi integritas, dedikasi, dan naluri menjaga."
Saat dunia makin terhubung dan ancaman digital kian kompleks, barisan pertahanan tak hanya dibentuk oleh algoritma dan firewall — tapi juga oleh orang-orang yang pernah bertempur demi keamanan, dan kini melindungi dunia dari balik layar monitor.