Pengamat sebut medsos berikan ruang paham-paham paling ekstrem
Prosentase penyebaran radikalisme di media sosial belum ada data yang pasti.
Pengamat Media Sosial, Enda Nasution, menyebut, jika tak bisa dipungkiri media sosial mampu memberikan celah munculnya paham-paham radikalisme. Pasalnya, hampir seluruh masyarakat di Indonesia memiliki media sosial. Sehingga, potensi penyebaran paham radikalisme bisa saja ditemukan di media-media sosial.
"Pada prinsipnya, media sosial memberikan ruang-ruang untuk paham-paham yang paling ekstrem, jadi bisa sangat radikal atau sangat liberal," ujarnya kepada Merdeka.com melalui pesan singkat, Selasa (26/4).
Dirinya juga mengungkapkan, prosentase penyebaran radikalisme di media sosial belum ada data yang pasti. Hanya saja, diprediksikan tidak banyak. Sebab, mayoritas pengguna internet umumnya tidak mencari informasi yang seperti itu.
"Tapi, untuk yang tertarik pada paham ekstrem dan mencari pasti ada," jelasnya.
Dengan kampanye anti radikalisasi, kata dia, mampu membentengi masyarakat dari informasi-informasi radikalisasi.
"Radikalisasi ini harus diperlakukan kayak bahaya laten komunis jaman dulu, harusnya sekarang jadi bahaya laten radikalisasi," tuturnya.
Sebelumnya, terpidana kasus Bom Bali I, Hisyam bin Ali Zein alias Umar Patek mengungkapkan, pola rekrutmen teroris dilakukan dengan apapun yang bisa disentuh. Pendekatan kovensional dilakukan lewat pengajian, tetapi juga memanfaatkan media sosial yang lebih instan.
"Sekarang lebih sering dan efektif lewat media sosial. Tanpa bertemu dengan orang yang direkrut. Disuguhkan isu-isu provokatif. Itu paling efektif. Itu bisa dilakukan dengan Facebook dan lain sebagainya," kata Umar Patek.
Karena itu, Umar mengingatkan kepada para orangtua untuk selalu dekat dengan anak-anaknya. Memantau aktivitasnya terutama dalam penggunaan smartphone. Hal ini lantaran, sejumlah pengikut yang bergabung dengan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria), direkrut lewat media.
Baca juga:
Anak-anak super tajir di seluruh dunia pamer kekayaan di instagram
WhatsApp dan Facebook Messenger makin jaya, bagaimana nasib SMS?
3 Cita-cita besar Mark Zuckerberg dan Facebook 10 tahun kedepan
Ini 5 fitur baru yang bikin pengguna makin betah Facebookan
Capai 900 juta pengguna, Facebook Messenger rilis fitur buat bisnis!
Facebook bakal perkenalkan fitur broadcast video ke Indonesia