Open AI Akuisisi Startup Jony Ive Senilai Rp105 Triliun, Mau Bikin Perangkat AI tanpa Layar
Akuisisi ini tidak sekadar cerita mencaplok perusahaan startup saja, namun banyak yang beranggapan akan menjadi inovasi menggemparkan dunia.
OpenAI resmi mengakuisisi io, startup perangkat AI yang didirikan oleh desainer iPhone Jony Ive, dalam kesepakatan all-stock senilai $6,5 miliar atau sekitar Rp105 triliun.
Akuisisi ini diumumkan hanya beberapa minggu setelah OpenAI membeli Windsurf, startup alat bantu coding, seharga $3 miliar. Langkah ini disebut sebagai akuisisi terbesar dalam sejarah OpenAI dan dirancang untuk mendorong generasi baru perangkat AI tanpa layar.
CEO OpenAI Sam Altman mengatakan tujuan dari akuisisi ini adalah menciptakan perangkat yang memungkinkan orang berinteraksi langsung dengan kecerdasan buatan, tanpa harus membuka aplikasi atau mengakses web.
"Saya pikir kita punya kesempatan untuk sepenuhnya membayangkan ulang apa arti menggunakan komputer," ujar Altman dalam video peluncuran yang dirilis Rabu.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Ive dan sekitar 55 anggota tim desain, rekayasa, dan risetnya akan bergabung ke dalam OpenAI untuk mengembangkan perangkat keras AI yang lebih manusiawi. Mereka akan membangun perangkat fisik yang dirancang sebagai antarmuka alami ChatGPT dan model AI lainnya.
Altman dan Ive diketahui telah bekerja sama secara rahasia selama dua tahun terakhir. Menurut laporan Wall Street Journal, mereka sempat mengeksplorasi pengembangan headphone AI dan perangkat wearable dengan kamera. Meski tidak merinci bentuk produk akhir, Altman menyebut bahwa salah satu prototipe yang telah diuji adalah “potongan teknologi paling keren yang pernah saya lihat.”
Jony Ive sendiri dikenal luas sebagai arsitek desain di balik iPhone, iPad, dan iMac saat masih di Apple. Ia keluar dari Apple pada 2019 dan mendirikan LoveFrom, studio desain yang menjalin kerja sama dengan Airbnb hingga Ferrari. “Sam adalah visioner,” kata Ive, menanggapi kolaborasi mereka dalam video resmi OpenAI.
Akuisisi ini memperkuat ambisi OpenAI untuk memperluas jangkauan produknya di luar software, seiring dengan melonjaknya penggunaan ChatGPT yang kini mencapai 500 juta pengguna aktif mingguan di seluruh dunia. Perangkat baru yang dikembangkan disebut akan diluncurkan mulai 2026 dan difokuskan pada interaksi berbasis suara dan AI multimodal yang bisa memahami konteks pengguna.
Langkah ini juga memperlihatkan pergeseran strategis dari dominasi software menuju hardware AI, dengan pengalaman pengguna yang tidak lagi bergantung pada layar sentuh. Alih-alih menjadi sekadar aplikasi, ChatGPT di masa depan diproyeksikan menjadi entitas yang melekat dalam kehidupan sehari-hari — dari pakaian hingga aksesori yang bisa dikenakan.
Jika sukses, proyek ini bisa menjadikan OpenAI pemain utama dalam kategori baru perangkat AI konsumen, sekaligus membuka potensi pasar baru di luar dominasi ponsel pintar.