LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. TEKNOLOGI

Hutan Selandia Baru pernah dihuni kelelawar raksasa mirip manusia

Kelelawar itu bisa berjalan dengan dua kaki dan berburu di dalam hutan

2015-06-19 10:38:00
Penelitian
Advertisement

Jenis kelelawar raksasa baru ditemukan di Selandia Baru. Namun, kali ini bukan kelelawar biasa, karena ukurannya sangat besar dan berjalan dengan dua kaki mirip manusia.

Tim paleontolog asal Universitas New South Wales Australia berhasil menemukan fosil kelelawar purba di Central Otago, kawasan yang terletak di kepulauan Selandia Baru bagian selatan. Daerah itu dulunya dikenal diklaim sebagai sebuah danau pra sejarah raksasa bernama danau 'Manuherikia' dan menjadi bagian sebuah hutan hujan.

Fosil yang ditemukan berupa beberapa bagian tulang dan gigi kelelawar purba. Ilmuwan memperkirakan ukuran kelelawar itu mencapai tiga kali kelelawar biasa dan berjalan dengan dua kaki. Oleh ilmuwan, spesies kelelawar purba itu diberi nama Mystacina miocenalis.

Advertisement

Menariknya, kelelawar ini diklaim masih bersaudara dengan kelelawar Mystacina tuberculata yang saat ini hidup di hutan-hutan tua Selandia Baru.

Berdasarkan penelitian lanjutan, diketahui fosil itu berasal dari masa 16 juta tahun yang lalu. Oleh ilmuwan, hal itu dianggap sebagai awal kemunculan kelelawar Mystacina di negara tetangga Australia itu.

"Penemuan kami membuktikan bila kelelawar Mystacina sudah ada sejak 16 juta tahun lalu. Kelelawar purba itu juga menempati daerah serta memakan makanan yang sama seperti kelelawar modern," ungkap Profesor Suzanne Hand, Daily Mail (18/06).

Advertisement

Pertanyaannya, mengapa kini ukuran kelelawar Mystacina bisa mengecil?

Menurut Profesor Suzanne Hand, hal itu disebabkan oleh kebutuhan terbang dan pergerakan yang cepat. Dengan ukuran raksasa, tentu akan sulit bagi mereka untuk terbang di antara pepohonan, terlebih mereka lebih mengandalkan indera pendengaran ketimbang indera penglihatan.

Oleh sebab itu, ilmuwan menduga mereka terus berevolusi dan berakhir dengan ukuran relatif kecil seperti saat ini.

"Ukuran besar yang tidak biasa itu membuat mereka sedikit terbang dan lebih banyak berjalan di tanah untuk mendapatkan makanan. Otomatis mereka harus berhadapan dengan musuh yang berukuran besar," tambah Profesor Suzanne Hand.

Baca juga:
Yakin lebih pintar dari anak umur 6 tahun? Coba tes ini!
Terungkap, ini cara orang Yunani kuno cegah mayat bangkit dari kubur
Tanpa polusi udara, tiap tahun 2 juta orang tak akan mati sia-sia
5 Fakta menakjubkan di balik panasnya inti Bumi
Penelitian ungkap gempa Nepal sukses pindahkan gunung Everest
Ngaku punya ingatan super? Coba kenali wajah-wajah ini!

(mdk/bbo)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.