Global warming kian parah, mengapa Kutub Selatan tambah dingin?
Sebaliknya Kutub Utara makin miskin es
Pemanasan global atau global warming dari tahun ke tahun semakin mengkhawatirkan. Hal ini terbukti dengan ditetapkannya tahun 2015 dan 2016 sebagai tahun terpanas dalam sejarah manusia. Terlepas dari kemunculan gelombang panas di mana-mana, Kutub Selatan atau benua Antartika justru bertambah dingin.
Air di Antartika belum tersentuh global warming
Kutub Utara Bumi atau kawasan Artik saat ini tengah mengalami peningkatan suhu terparah di Bumi. Tak aneh bila lapisan es di sana tiap harinya semakin tergerus habis. Di sisi lain, bukannya mencari, es Antartika justru bertambah.
Menurut penelitian ilmuwan University of Washington dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), arus air sekitar Antartika secara terus menerus mengangkat air di laut di kedalaman sekitar 3,2 kilometer ke atas.
Naiknya air super dingin laut dalam ini lah yang akhirnya membuat Antartika tetap dingin ketika kawasan Bumi lain memanas. Ilmuwan juga mengatakan bila air laut dalam tersebut berusia ratusan tahun dan belum pernah tersentuh global warming.
"Air itu sangat tua dan berasal dari bagian laut dalam yang akhirnya naik ke atas. Air itu tidak pernah melihat langit selama ratusan tahun," ujar Dr. Kyle Armour, pimpinan penelitian.
Es Antartika semakin menebal
Penelitian Space Agency menyatakan bila lapisan es Kutub Selatan sudah menebal sejak 10.000 tahun lalu. Es di bagian timur dan barat Antartika pertahunnya diteliti menebal 1,7 sentimeter.
Dari penelitian satelit, per tahun lapisan es di Antartika mampu bertambah hingga 82 miliar ton.
Sumber: Daily Mail, Space Agency
Baca juga:
Berasal dari laut, mengapa air hujan tak asin?
Mengapa air laut rasanya asin?
Bukan lagi mitos, smartphone terbukti sebabkan kanker!
Arkeolog klaim temukan makam ilmuwan legendaris Aristoteles
Mengapa burung suka berkicau di pagi hari?