Cari belahan jiwa lewat dunia maya
Semakin banyak situs yang menawarkan diri untuk menjadi mak comblang. Apa untung ruginya?
Urusan mencari cinta memang bisa dilakukan di mana saja. Di zaman modern ini misalnya, hal ini pun ternyata juga bisa dicari lewat dunia maya.
Coba saja hitung berapa banyak situs-situs terkait yang membantu penggunanya menemukan cinta sejati. Sudah bejibun dan menyasar kelompok-kelompok tertentu.
Contoh saja, untuk yang terbesar saat ini adalah match.com. Lewat situs ini, semua orang akan dibantu untuk menemukan belahan jiwanya.
Caranya pun cukup mudah, tinggal masukkan saja kategori pria atau wanita yang diinginkan. Nantinya, mesin pencarian dari match.com akan membantu menemukan sang kekasih sesuai dengan kriteria tersebut.
Lain match.com lain lagi whatsyourprice.com. Di sini, menemukan pasangan tak melulu melihat dari sisi fisik saja.
Sama dengan match.com, di whatsyourprice.com nantinya akan diminta untuk mengisi data pribadi dan tipe pasangan yang diinginkan. Bedanya, whatsyourprice.com akan meminta 'harga' dari pasangan yang diinginkan.
Ya, nantinya pengguna akan diminta untuk mengisi berapa banyak yang mereka rela keluarkan untuk bisa berkencan dengan calon pasangan. Jika harga tersebut disepakati, maka keduanya pun akan dipertemukan oleh situs ini.
Memang, kedengarannya kedua layanan tersebut tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang mau berpacaran atau bahkan menikah hanya dengan melihat rekomendasi yang diberikan oleh sebuah situs.
Namun, hal ini rupanya juga terbukti tak menjadi hal yang aneh bagi siapa saja. Terbukti, layanan ini semakin menjamur di dunia maya dan memiliki berbagai kelebihan yang saling bersaing satu sama lain.
Jika Anda yang dihadapkan pada hal ini, maukah mendapatkan pasangan lewat situs pencari jodoh online?
Berita tentang TeknoLove lainnya:
Filsuf dadakan di Twitter, ajang cari popularitas?
Curhat asmara via internet dianggap lebih nyaman
Relakan setengah identitas hilang demi sang idola
Galaunya Timeline Twitter di malam minggu
Facebook jadi biro jodoh era modern