Ambisi Elon Musk soal Mars, Rancang 500 Misi ke Planet Merah di Tahun 2033
Elon Musk justru tampil di hadapan publik dengan rencana luar biasa ambisius.
SpaceX baru saja menjalani minggu yang dramatis. Setelah uji coba kesembilan roket Starship berakhir tragis dengan terbakar di atmosfer Samudra Hindia, Elon Musk justru tampil di hadapan publik dengan rencana luar biasa ambisius: mengirim ratusan misi tanpa awak, bahkan manusia, ke Mars hanya dalam waktu beberapa tahun ke depan.
Dalam presentasinya, Musk memaparkan jadwal agresif. Jendela peluncuran Mars—yang datang setiap 780 hari ketika posisi orbit Bumi dan Mars paling ideal—akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Target pertama adalah November 2026. Menurut Musk, peluang keberhasilan peluncuran pada jendela itu adalah 50:50.
Rencana besarnya adalah: lima pendarat pada 2026, 20 unit pada 2028-2029, 100 unit pada 2030-2031, dan 500 misi penuh pada 2033. Awalnya, hanya robot Optimus buatan Tesla yang akan dikirim. Namun pada 2028 kemungkinan manusia sudah ikut terlibat, dengan kepastian pengiriman manusia pada gelombang 2030.
Tujuan dari misi masif ini adalah untuk menjadikan Mars planet yang mampu menopang kehidupan secara mandiri. Namun, bahkan Musk sendiri belum tahu pasti seberapa banyak material yang dibutuhkan.
"Dugaan saya sekitar 1 juta ton. Bisa jadi 10 juta. Semoga bukan 100 juta ton," ujarnya dikutip dari IFLScience, Sabtu (31/5).
Namun ambisi ini datang dengan hambatan teknis yang sangat besar. Sampai saat ini, Starship belum pernah mendarat kembali ke Bumi dengan selamat.
Dua uji coba sebelumnya bahkan berakhir dengan ledakan beberapa menit setelah peluncuran. Tanpa satu pun keberhasilan pendaratan, gagasan membawa manusia melintasi ruang antarplanet masih sebatas imajinasi.
Meski begitu, Musk tetap optimistis. Ia mengatakan setiap tes membawa pelajaran baru, yang akan memuluskan jalan bagi mimpi mengirim ratusan ribu—bahkan jutaan—manusia ke Mars. Ia ingin membawa siapa pun yang ingin tinggal di sana, lengkap dengan seluruh perlengkapan untuk membuat Mars layak huni.
Namun para ahli mengingatkan bahwa ada lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Mengapa orang ingin ke Mars? Apa yang bisa mereka lakukan di sana? Bagaimana mereka bisa bertahan hidup dalam lingkungan beracun, dingin, dan penuh radiasi?
Dalam buku A City on Mars, pasangan ilmuwan Dr Kelly dan Zach Weinersmith mengulas tantangan berat menuju kolonisasi Mars. "Yang perlu segera dikembangkan adalah ekologi tertutup—ekosistem mandiri dalam wadah tertutup," kata Zach. Namun eksperimen seperti ini masih sangat terbatas. Skala maksimal sejauh ini hanya mencakup delapan orang.
Dr Kelly menambahkan bahwa kita belum memahami banyak soal kedokteran ruang angkasa.
"Stasiun luar angkasa memang melatih kita, tapi mereka masih dilindungi magnetosfer Bumi. Mars tidak punya itu," ujarnya.
Efek jangka panjang paparan radiasi dan gravitasi Mars yang hanya 40 persen dari Bumi belum bisa dipastikan. Belum lagi debu beracun yang beterbangan dalam badai global Mars, yang bisa mencemari sistem pernapasan dan alat-alat vital dalam habitat.
Terakhir, soal deliverability atau kemungkinan misi ini benar-benar berjalan. SpaceX sejauh ini belum menunjukkan keberhasilan teknis yang cukup. Musk pernah menjanjikan misi tanpa awak ke Mars pada 2018, lalu ditunda ke 2020, dan kemudian menyebut manusia akan menginjak Mars pada 2024. Tak satu pun dari itu yang terjadi.
Kini, klaim bahwa 500 misi ke Mars bisa dilakukan dalam waktu kurang dari 10 tahun tampak terlalu optimis. Namun, jika sejarah SpaceX menunjukkan sesuatu, itu adalah bahwa kegilaan ide Musk seringkali mengawali perubahan besar—entah berhasil atau tidak.